Arsip

Tag ‘trauma’

Fraktur Clavicula

Komentar ditutup

Penyebab biasanya trauma langsung / atau tidak langsung / , misal jatuh dengan

tangan / siku menumpu.

Diagnosis

  1. Riwayat  :  waktu jatuh posisi tangan menumpu
  2. Deformitas  : menonjol, udem, fraktur 1/3 lateral tanpa ruptur ligamentum korakoklavikulare deformitas tidak jelas
  3. Nyeri tekan (tenderness)
  4. Krepitasi
  5. Pemeriksaan penunjang : radiologi dan laboratorium

Penatalaksanaan

Konservatif : Pasang ransel verban (Figure of eight) sampai rasa sakit hilang

Operatif

Indikasi dilakukan tindakan operatif:

  1. Fraktur terbuka
  2. Ruptur ligamentum korakoklavikulare
  3. Gangguan neurovaskuler
  4. Delayed / non Union
  5. Kosmetik

UNION terjadi 3 minggu disertai kallus yang menonjol dimana pada anak akan hilang sebab

mempunyai daya remodelling

Trauma Ginjal

Komentar ditutup

Trauma terjadi sekitar 3% dari seluruh yamg ada(Geehan,2003), bahkan mencapai 5% pada daerah urban(Brandes,2003). Trauma terjadi sekitar 10% dari seluruh abdomen( Geehan,2003., Seidman,2003). Dari seluruh sistem genitourinaria, menduduki angka tertinggi  sekitar 50% tidak membedakan kiri atau kanan(Brandes,2003). Trauma biasanya disebabkan oleh karena jatuh, kecelakaan lalu lintas, pukulan, olah raga, tusukan atau  senjata api.(dos Santos Vieira, 2003).

Patologi Trauma

Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya.  Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter ,meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah     dan mengisi rongga retroperitoneal.(Guerriero, 1984).

Gambar 3. Fasia Gerota, proyeksi anterior-posterior. (Guerriero, 1984)

Karena miskinnya fiksasi, mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang  bisa menyebabkan seperti avulsi collecting system atau sobekan pada   intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah. Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi  pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat.

Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul.

Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas kiri serta duodenum dengan tepi medial kanan bisa menyebabkan kombinasi pada pankreas, duodenum dan .. Anatomi yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya ringan.(McAninch,2000).

Mekanisme Trauma

Mekanisme pada perlu diperhatikan benar oleh klinisi. Berikut adalah mekanisme yang umumnya terjadi pada .( Geehan,2003)

1.Trauma tembus

2.Trauma tumpul

3. Iatrogenik

4.Intraoperatif

5.Lain-lain

80-85% disebabkan tumpul yang secara langsung mengenai abdomen, pinggang atau punggung. Trauma tersebut disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh dan olahraga kontak. Tabrakan kendaraan pada kecepatan tinggi bisa menyebabkan   pambuluh darah utama karena deselerasi cepat. Luka karena senjata api dan pisau   merupakan luka tembus terbanyak  yang mengenai sehingga bila terdapat luka pada pinggang harus dipikirkan sampai terbukti sebaliknya. Pada luka tembus , 80% berhubungan dengan viscera abdomen. (Geehan , 2003; McAninch , 2000).

Gambar 4. Trauma tumpul yang merusak sering menyebabkan fraktur iga bawah dan prosesus transverses vertebra lumbal. (Blandy,1985)

Gambar 5.

Mekanisme . Kiri: Hantaman langsung pada abdomen. Gambar kecil menunjukkan gaya yang berjalan dari hilus renalis. Kanan: Jatuh terduduk dari ketinggian (contrecoup of kidney). Gambar kecil memperlihatkan gayadari arah cranial merobek pedikel .(McAninch, 2000)

Gambar 6.

A.Luka tembus peluru.

B.Luka tusuk. (Guerriero, 1984)

Iatrogenik disebabkan oleh prosedur endourologi, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy(ESWL), biopsi renal dan prosedur perkutan. Pada intraoperatif  terjadi pada Diagnostic Peritoneal Lavage(DPL). Penyebab lain adalah karena rejeksi transplantasi serta proses kelahiran.

Klasifikasi Patologi Ginjal

Menurut Moore et al , dibagi menjadi:(McAninch,2000)

1.  Trauma minor

Merupakan 85% kasus. Kontusio maupun ekskoriasi renal paling sering terjadi. Kontusio renal kadang diikuti hematom subkapsuler. Laserasi korteks superfisial juga merupakan minor.

2.  Trauma mayor

Merupakan 15% kasus.Terjadi laserasi kortikomeduler yang dalam sampai collecting system menyebabkan ekstravasasi urine kedalam ruang perirenal. Hematom perirenal dan retroperitoneal sering menyertai laserasi dalam ini. Laserasi multiple mungkin menyebabkan destruksi komplit jaringan . Jarang terjadi laserasi pelvis renalis tanpa laserasi parenkim pada tumpul.

3.   Trauma vaskuler

Terjadi sekitar 1% dari seluruh . Trauma vaskuler pada pedikel ini memang sangat jarang  dan biasanya karena tumpul. Bisa terjadi  total avulsi arteri dan vena  atau  avulsi parsial dari cabang segmental vasa ini. Regangan pada arteri renalis utama tanpa avulsi menyebabkan trombosis arteri renalis.

Grading Trauma Ginjal

Untuk mengelola dengan baik perlu terlebih dahulu menetapkan grading secara akurat. The American Association for the surgery of Trauma membagi menjadi 5 grade:(Brandes , 2003)

1.derajat I   : kontusio atau hematom subkapsuler yang tidak meluas  tanpa    disertai laserasi parenkim.

2.derajat II  : hematom perirenal yang tidak meluas atau laserasi korteks < 1 cm tanpa ekstravasasi urine.

3.derajat III : laserasi korteks > 1 cm tanpa ekstra vasasi urine

4.derajat IV: laserasi korteks meluas ke collecting system( terlihat adanya ekstravasasi kontras ), atau cedera arteri atau vena segmental(terlihat adanya infark parenkim segmental) atau cedera arteri atau vena utama yang tertutup oleh hematom

5.derajat V  :  shattered kidney, avulsi pedikel atau trombosis arteri utama.

Gambar 7. Klasifikasi . A.grade I: hematuria gross atau mikroskopik, gambaran radilogis normal, kontusio atau hematom subkapsuler terlokalisisr tanpa laserasi parenkim. B.Grade II: hematom perirenal tak meluas atau laserasi korteks kurang dari 1 cm dalamnya tanpa disertai ekstravasasi urine. (McAninch, 2000)

Gambar 8. Klasifikasi . C: Grade III, laserasi parenkim > 1 cm kedalam korteks tanpa ekstravasasi urine. D: grade Iv, laserasi meluas ke corticomedullary junction dan ke dalam collecting system. (McAninch, 2000)

Gambar  9. E: grade IV, trombosis arteri renalis segmental tanpa laserasi parenkim. Tampak adanya daerah iskemia segmental. F: gradeV, trombosis arteri renalis utama. (McAninch, 2000)

Gambar 10. G: grade V, laserasi multiple mayor menyebabkan suatu shattered kidney. H: grade V, avulsi vasa utama. (McAninch, 2000)

Diagnosis

Kecurigaan adanya patut dicermati pada keadaan dibawah ini:

Trauma didaerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah tersebut.

Hematuri

fraktur kosta sebelah bawah (T8-T12) atau fraktur prosesus transversus vertebra.

Trauma tembus pada daerah pinggang dan abdomen.

Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.

Derajat tidak berhubungan dengan derajat hematuri, karena gross hematuria bisa terjadi pada minor sedangkan hematuria ringan terjadi pada mayor.(Purnomo,2003)

Gejala

Nyeri terlokalisasi pada satu pinggang atau seluruh perut. Trauma lain seperti ruptur visera abdomen atau fraktur pelvis multiple juga menyebabkan nyeri abdomen akut sehingga mengaburkan adanya . Kateterisasi biasanya menunjukkan adanya hematuria. Perdarahan retroperitoneal bisa menyebabkan distensi abdomen, ileus, nausea serta vomitus.

Tanda

Perlu diperhatikan adanya syok atau tanda-tanda kehilangan darah masiv karena perdarahan retroperitoneal. Cermati adanya ekimosis pada pinggang atau kuadran atas abdomen. Juga adanya patah tulang iga bagian bawah. Mungkin ditemukan nyeri abdomen difus pada palpasi yang merupakan tanda akut abdomen karena adanya darah pada cavum peritonei. Distensi abdomen mungkin ditemukan dengan bising usus yang menghilang. Masa yang palpable menandakan adanya hematom retroperitoneal besar atau suatu ekstravasasi urin. Namun jika retroperitoneum robek, darah bebas masuk ke cavum peritonei tanpa ditemukan masa palpable pada pinggang.

Laboratorium

Biasanya didapatkan adanya hematuri baik gross maupun mikroskopis. Beratnya hematuri tidak berbanding lurus dengan beratnya kerusakan . Pada minor bisa ditemukan hematuri yang berat, sementara pada mayor bisa hanya hematuri mikroskopis. Sedangkan pada avulsi total vasa renalis bahkan tidak ditemukan hematuri. Awalnya hematokrit normal namun kemudian terjadi ppenurunan pada pemeriksaan serial. Temuan ini menandakan adanya perdarahan retroperitoneal persisten yang menyebabkan terjadinya hematom retroperitoneal yang besar. Perdarahan yang persisten jelas memerlukan tindakan operasi. .(McAninch ,2000)

Imaging

1. Plain Photo

Adanya obliterasi psoas shadow menunjukkan hematom retroperitoneaal atau ekstravasasi urin. Udara usus pindah dari posisinya. Pada tulang tampak fraktur prosesus transversalis vertebra atau fraktur iga.(Donovan , 1994)

2 .Intravenous Urography(IVU)

Pada , semua semua tembus atau tumpul dengan hemodinamik tidak stabil yang membutuhkan eksplorasi segera harus dilakukan single shot  high dose intravenous urography(IVU) sebelum eksplorasi . Single shot IVU ini bersisi 2 ml/kgBB kontras standar 60% ionic atau non ionic yang disuntikkan intra vena, diikuti satu pengambilan gambar abdomen 10 menit kemudian. Untuk hasil yang baik sistol dipertahankan diatas 90 mmHg. Untuk menghemat waktu kontras dapat disuntikkan pada saat resusitasi awal. Keterbatasan pemeriksaan IVU adalah tak bisa mengetahui luasnya .  Dengan IVU bisa dilihat fungsi kedua , adanya serya luasnya ekstravasasi urin dan pada tembus bisa mengetahui arah perjalanan peluru pada . IVU sangat akurat dalam mengetahui ada tidaknya . Namun untuk staging parenkim, IVU tidak spesifik dan tidak sensitive. Pada pasien dengan hemodinamik stabil, apabila gambaran IVU abnormal dibutuhkan pemeriksaa lanjutan dengan Computed  Tomography (CT) scan.

Bagi pasien hemodinamik tak stabil, dengan adanya IVU abnormal memerlukan tindakan eksplorasi.

3. CT Scan

Staging paling akurat dilakukan dengan sarana CT scan. Teknik noninvasiv ini  secara jelas memperlihatkan laserasi parenkim dan ekstravasasi urin, mengetahui infark parenkim segmental, mengetahui ukuran dan lokasi  hematom retroperitoneal, identifikasi jaringan nonviable serta  cedera terhadap organ sekitar seperti lien, hepar, pancreas  dan kolon.(Geehan , 2003; Brandes , 2003)  CT scan telah menggantikan pemakaian IVU dan arteriogram.Pada kondisi akut, IVU menggantikan arteriografi karena secara akurat dapat memperlihatkan cedera arteri baik arteri utama atau segmental. Saat ini telah  diperkenalkan suatu helical CT scanner  yang mampu melakukan imaging dalam waktu 10 menit pada abdomen. .(Brandes , 2003)

4. Arteriografi

Bila pada pemeriksaan sebelumnya tidak semuanya dikerjakan, maka arteriografi bisa memperlihatkan cedera parenkim dan arteri utama. Trombosis arteri dan avulsi pedikel terbaik didiagnosis dengan arteriografi terutama pada yang nonvisualized dengan IVU. Penyebab utama nonvisualized pada IVU adalah avulsi total pedikel, trombosis arteri, kontusio parenkim berat yang menyebabkan spasme vaskuler. Penyebab lain adalah memang tidak adanya baik karena kongenital atau operasi sebelumnya.(MC Aninch , 2000)

5. Ultra Sonography(USG)

Pemeriksa yang terlatih dan berpengalaman dapat mengidentifikasi adanya laserasi maupun hematom. Keterbatasan USG adalah ketidakmampuan untuk        membedakan darah segar dengan ekstravasasi urin, serta ketidakmampuan mengidentifikasi cedera pedikel  dan infark segmental. Hanya dengan Doppler berwarna maka cedera vaskuler dapat didiagnosis. Adanya fraktur iga , balutan, ileus intestinal, luka terbuka serta obesitas membatasi visualisasi .(Brandes SB, 2003)

Penatalaksanaan

1.  Konservatif

Tindakan konservatif ditujukan pada minor. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu tubuh), kemungkinan adanya penambahan masa di pinggang, adanya pembesaran lingkar perut, penurunan kadar hemoglombin dan perubahan warna urin pada pemeriksaan urin serial.(Purnomo , 2003) Trauma minor 85% dengan hematuri akan berhenti dan sembuh secara spontan. Bed rest dilakukan sampai hematuri berhenti.(McAninch, 2000)

2.  Eksplorsi

a.   Indikasi absolut

Indikasi absolut adalah adanya perdarahan persisten yang ditandai oleh adanya hematom retroperitoneal yang meluas dan berdenyut. Tanda lain adalah adanya avulsi vasa renalis utama pada pemeriksaan CT scan atau arteriografi.

b.  Indikasi relatif

b.1.Jaringan nonviable

Parenkim yang nekrosis lebih dari 25% adalah indikasi relatif untuk dilakukan eksplorasi.

b.2.Ekstravasasi urin

Ekstravasasi urin menandakan adanya cedera mayor. Bila ekstravasasi menetap maka membutuhkan intervensi .

b.3.Incomplete staging

Penatalaksanaan nonoperatif dimungkinkan apabila telah dilakukan pemeriksaan imaging untuk menilai derajat . Adanya incomplete staging memerlukan pemeriksaan imaging dahulu atau eksplorasi /rekonstruksi .     Pada pasien dengan kondisi tidak stabil yang memerlukan tindakan laparotomi segera, pemeriksaan imaging yang bisa dilakukan hanyalah one shot IVU di meja operasi. Bila hasil IVU abnormal atau tidak jelas atau adanya perdarahan persisten pada harus dilakukan eksplorasi .

b.4.Trombosis Arteri

Cedera deselerasi mayor menyebabkan regangan pada arteri renalis dan akan menyobek tunika intima, terjadi trombosis arteri renalis utama atau cabang segmentalnya yang akan menyebebkan infark parenkim . Penegakan diagnosis yang tepat serta timing operasi sangat penting dalam penyelamatan . Renal salvage dimungkinkan apabila iskemia kurang dari 12 jam.            Jika kontralateral normal, ada kontroversi apakah perlu revaskularisasi atau observasi.Jika iskemia melebihi 12 jam, akan mengalami atrofi.      Nefrektomi dilakukan hanya bila delayed celiotomy dilakukan karena adanya cedera organ lain atau jika hipetensi menetap pasca operasi. Trombosis arteri renalis bilateral komplit atau adanya soliter dibutuhkan eksplorasi segera dan revaskularisasi.

b.5.Trauma tembus

Pada tembus indikasi absolut dilakukan eksplorasi adalah perdarahan arteri persisten. Hampir semua tembus renal dilakukan tindakan . Perkecualian adalah tanpa adanya penetrasi peluru intraperitoneum Luka tusuk sebelah posterior linea aksilaris posterior relatif tidak melibatkan cedera organ lain.(Brandes, 2003)

Tenik Operasi

A.  Approach

Dilakukan transperitoneal karena dapat mengenali dan menanggulangi intraabdominal lain serta dapat melakukan isolasi pembuluh darah sebelum melakukan eksplorasi .

B.  Isolasi pembuluh darah (Prosedur MCAninch)

Dimaksudkan untuk mengendalikan perdarahan waktu dilakukan eksplorasi sebelum tamponade hematom retroperitoneal dibuka. Usus halus dan kolon disingkirkan ke lateral dan cranial. Buat insisi pada peritoneum posterior sebelah medial dan sejajar dengan vena mesentrika superior. Insisi berada di ventral aorta dan dengan meneruskan insisi ke cranial akan didapat vena renalis kiri yang berjalan melintang di ventral aorta. Vena renalis kiri merupakan tanda yang penting karena relatif mudah ditemukan, sementara di kraniodorsal akan didapat arteri renalis kiri. Vena renalis kanan bermuara pada vena kava lebih kaudal disbanding  vena renalis kiri dan di cranial vena renalis kanan akan dijumpai arteri renalis kanan.Pada saat pembuluh darah dijerat untuk mengendalikan perdarahan tapi wrm ischaemic time tidak boleh lebih dari 30 menit. Bila diperlukan lebih lama didinginkan dengan es.    Dengan teknik ini di RSCM dapat diturunkan angka nefrektomi dari 635 menjadi 36%. Setelah prosedur ini, eksplorasi dilakukan dengan membuat irisan peritoneum parakolika.(Taher A, 2003).

Gambar 11. Isolasi pembuluh darah utama . (McAninch, 2003)

C.  Rekonstruksi

Setelah membuka fascia gerota maka harus terpapar seluruhnya. Pada saat inilah biasanya terjadi perdarahan yang dapat dikendalikan dengan melakukan oklusi sementara pembuluh darah . Selanjutnya dilakukan debridemen fasia dan jaringan diikuti hemostasis sebaik mungkin. Bila dijumpai perdarahan pada leher kaliks, dilakukan penjahitan dengan benang absorabel kecil dan jarum atraumatik. Defek pelviokalises memerlukan penjahitan yang kedap air. Setelah itu baru dilakukan penjahitan parenkim sekaligus kapsulnya dengan jahitan matras menggunakan benang kromik 2-0. Lemak omentum dapat digunakan untuk menutup defek parenkim yang luas. Jaringan nonviable pada kutub atas maupun bawah yang luas memerlukan nefrektomi pasrsial. Cara guillotine merupakan cara yang mudah, namun penting untuk menyisakan kapsul agar dapat dipakai untuk menutup defek parenkim . Sebagai penggantinya dapat dipakai free graft peritoneum. Nefrektomi biasanya dilakukan pada robekan scattered atau mengenai daerah hilus. Laserasi luas pada bagian tengah dan mengenai pelviokalises sering berakhir dengan nefrektomi.         Repair pembuluh darah perlu diusahakan dan cedera yang mengenai sekaligus a/v umumnya berakhir dengan nefrektomi. Di USA dari semua cedera arteriil hanya 44% kasus yang berhasil direpair. Ureter harus dikenali dan bila terdapat bekuan darah di ureter maupun pielum, pemasangan nefrostomi harus dilakukan dengan kateter foley 16F. Sebelum menutup rongga retroperitoneum dilaskukan pemasangan pipa drain. (Taher , 2003)

Komplikasi

A. Komplikasi Awal

Komplikasi awal terjadi I bulan pertama setelah cedera.

1.  Urinoma

Terjadi < 1% kasus . Jika kecil dan noninfeksius maka tidak membutuhkan intervensi . Bila besar perlu dilakukan pemasangan tube ureter atau nefrostomi perkutan /endoskopik.

2.  Delayed bleeding

Terjadi dalam waktu 2 minggu cedera. Bila besar dan simtomatik dilakukan   embolisasi.

3. Urinary fistula

Terjadi karena adanya urin yang tidak didrain atau infark segmen besar parenkim gunjal.

4.  Abses

Terdapat ileus, panas tinggi dan sepsis. Mudsah didrainase perkutan.

5. Hipertensi

Pada periode awal pasca operasi biasanya karena rennin mediated, transient   dan tidak membutuhkan tindakan .

B.Komplikasi Lanjut

Hidronefrosis, arteriovenous fistula, pielonefritis. Kalkulus, delayed hipertensi

Scarring pada daerah pelvis renis dan ureter pasca bisa menyebabkan obstruksi urine yang menyebabkan terbentuknya batu dan infeksi kronik. Fistula arteriovenosa sering terjadi setelah luka tusuk yang ditandai dengan delayed bleeding. Angiografi akan memperlihatkan ukuran dan posisi fistula.Pada sebagian besar kasus mudah dilakukan penutupan fistula dengan embolisasi. Hipertensi delayed pasca cedera karena iskemi merangsang aksis renin-angiotensin.

Ginjal sangat terlindungi oleh organ-organ disekitarnya sehingga diperlukan kekuatan yang cukup yang bisa menimbulkan cedera . Namun pada kondisi patologis seperti hidronefrosis atau malignansi maka mudah ruptur oleh hanya ringan. Mobilitas sendiri membawa konsekuensi terjadinya cedera parenkim ataupun vaskuler. Sebagian besar adalah tumpul dan sebagian besar tumpul menimbulkan cedera minor pada yang hanya membutuhkan bed rest.

Diagnosis  ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada pemeriksaan fisik digali mekanisme serta kemungkinan gaya yang menimpa maupun organ lain disekitarnya. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menilai ABC nya , local maupun organ lain yang terlibat. Pada pasien ini mungkin ditemukan hematuria gross ataupun mikroskopis atau mungkin tanpa hematuria.Bila kondisi tidak stabil walau dengan resusitasi maka tidak ada pilihan kecuali eksplorasi segera . Pada pemeriksaan penunjang plain photo bisa ditemukan patah tulang iga bawah, prosesus transversus vertebra lumbal yang menunjukkan kecurigaan kita terhadap . Pada pemeriksaan IVU akurasinya 90% namun pada pasien hipotensi tidak bisa diharapkan hasilnya. IVU juga tidak bisa menilai daerah retroperitoneal serta sangat sulit melakukan grading. Pada kondisi tak stabil, maka hanya dilakukan one shot IVU yang bisa menilai kontralateral. Pemeriksaan dengan CT scan merupakan gold standard karena dengan alat ini bisa melakukan grading dengan baik. Bagian-bagian infark terlihat, serta seluruh organ abdomen serta retroperitoneum juga jelas. Pemeriksaan angiografi sangat baik dilakukan pada kecurigaan cedera vaskuler. Dilakukan arteriografi apabila CT scan tidak tersedia. Kerugiannya pemeriksaan ini invasif.

Prinsip penanganan adalah meminimalisasi morbiditas dan mortalitas serta sedapat mungkin mempertahankan fungsi . Hanya pasien dengan indikasi jelas dilakukan nefrektomi. Keselamatan jiwa pasien tentunya lebih penting dari pada usaha peyelamatan namun jiwa melayang.  Teknik operasi saat ini memegang peranan penting dalam penyelamatan . Dengan kontrol pembuluh darah maka terjadi penurunan angka nefrektomi. Kontrol pembuluh darah dilakukan diluar fasia Gerota sebelum masuk zona . Tanpa isolasi arteri dan vena , dekompresi hematom yang dilakukan durante operasi meningkatkan insidensi nefrektomi.