Arsip

Tag ‘bedah’

Kista Ginjal

Komentar ditutup
Kista ginjal adalah lesi tumor jinak ginjal yang paling sering dijumpai (70% dari tumor ginjal yang asimptomatik). Kista bisa tunggal / simple ataupun multiple, dapat unilateral maupun bilateral . Angka insiden kista simpel pada usia di bawah 18 tahun sekitar 0.1 – 0.45 % dengan insiden rata-rata 0.22 %. Pada orang dewasa, frekwensi meningkat sejalan dengan usia. Pada usia di bawah 40 tahun, angka insiden 20 %, dan setelah 40 tahun meningkat menjadi 33 % Kebanyakan penelitian menunjukkan tidak ada predileksi khusus pada perbedaan jenis kelamin. Tetapi pada 2 penelitian oleh Bearth-Steg (1977) dan Tada dkk (1983), menunjukkan bahwa pada pria lebih sering daripada wanita . Kista simple atau soliter merupakan kelainan non genetik . Karena kasus ini lebih sering didapatkan pada orang dewasa, diduga kista soliter ginjal adalah kelainan yang didapat Biasanya kista ginjal asimptomatik dan tidak dijumpai tanda-tanda klinis yang signifikan. Kista yang simple sering ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaaan ultrasonografi, CT-Scan atau urografi karena suatu problem lain pada abdomen (a). Meskipun demikian, kadang-kadang kista menimbulkan keluhan. Keluhan yang mungkin dirasakan pasien adalah adanya massa atau nyeri pada abdomen. Mungkin juga muncul hematuri karena ruptur kista ke dalam collecting system, hipertensi karena iskemi segmental atau adanya obstruksi.

Histopatologi

Kista simple ginjal adalah suatu lesi tunor jinak. Berbentuk “”, dengan ukuran bervariasi, mulai dari 1 – 10 cm. Yang paling sering adalah dengan diameter kurang dari 2 cm. Dinding kista merupakan satu lapis epitel gepeng atau kuboid. Memiliki dinding fibrous yang tipis, terdiri dari sel epitel gepeng atau kuboid, dan mungkin terdapat area calsifikasi. Kista tidak memiliki struktur pembuluh darah dan tidak memiliki hubungan dengan nephron. Kista mengandung cairan jernih kekuningan. Pada 5% kasus mengandung cairan yang hemoragis Kista simple ginjal biasanya tunggal dan unilateral. Kadang-kadang multiple, multilokuler, dan lebih jarang lagi kasus yang bilateral. Pada ginjal, kista terletak  superfisial, dan tidak berhubungan dengan pelvis renalis.  5-8 % kista ginjal mengandung tumor ganas McHugh dkk (1991) berpendapat bahwa ukuran kista tidak berkembang sejalan dengan waktu, sedang ahli yang lain (Bearth and Steg, 1977) pada penelitiannya mendapatkan ukuran kista yang bertambah besar sejalan dengan usia .

Patogenesis

Kista simple ginjal biasanya asimptomatik dan sering ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaaan ultrasonografi, CT-Scan atau urografi karena suatu problem lain pada abdomen  Jika ukuran kista soliter bertambah besar, dapat menekan dan merusak parenkim ginjal. Tetapi kerusakan parenkim yang ditimbulkan tidak begitu luas, sehingga jarang sekali menimbulkan gangguan fungsi ginjal secara langsung

Kista yang menimbulkan keluhan, rata-rata berukuran lebih dari 10 cm (b). Keluhan  yang mungkin dirasakan pasien adalah adanya massa atau nyeri pada abdomen. Mungkin juga muncul hematuri karena ruptur kista ke dalam collecting system, hipertensi karena iskemi segmental atau adanya obstruksi Kista simple pada ginjal letaknya superfisial, dan tidak berhubungan dengan pelvis renalis. Posisinya sering menempati pole bawah ginjal, tetapi dapat juga menempati suatu posisi sedemikian hingga terjadi penekanan pada ureter atau pelvis, sehingga menimbulkan obstruksi, yang melanjut menjadi hidronefrosis Jika terjadi perdarahan ke dalam kista dan menimbulkan distensi dinding kista, nyeri yang ditimbulkan cukup berat. Demikian juga jika terjadi infeksi, akan menimbulkan nyeri dan disertai demam.

Diagnosis

Pemeriksaan fisik biasanya normal. Kista yang sangat besar, pada palpasi mungkin terraba sebagai massa pada daerah ginjal. Apabila dijumpai nyeri tekan, kemungkinan terjadi infeksi Evaluasi laboratorium fungsi ginjal dan urinalisa biasanya normal. Hematuri mikroskopis sangat jarang dijumpai

Pada foto polos abdomen, mungkin terlihat suatu bayangan massa yang menumpuk dengan bayangan ginjal. Dengan pemeriksaan urogram menggunakan cairan radioopaq, pada 2-3 menit pertama, parenkim ginjal akan terlihat putih, sedang pada bayangan kista tidak, karena kista bersifat avaskuler. Pengambilan gambar obliq dan lateral akan sangat membantu diagnosis. Jika massa kista berada pada pole inferior, gambaran ureter akan terdesak ke arah vertebra. Apabila dengan pemeriksaan rutin tersebut opasitas parenkim ginjal tidak dapat dicapai signifikan, dapat dilakukan nephrotomografi, untuk meningkatkan gambaran kontras antara parenkim dengan kista

Sebagai pemeriksaan yang noninvasif, USG ginjal dapat membedakan antara kista dengan      suatu massa solid. Dan apabila ada gambaran kista, dengan panduan USG dapat dilakukan aspirasi.  Diagnosis kista simple ginjal menggunakan pemeriksaan ultrasonografi, dengan kriteria

  1. Tidak didapatkan internal echoes.
  2. Berbatas tegas dan tipis, dengan tepi yang halus dan tegas.
  3. Transmisi gelombang yang bagus melalui kista, dengan peningkatan bayangan akustik di belakang kista.
  4. Bentuk oval ramping atau sferis.

Apabila 4 kriteria tersebut dapat ditemukan, kemungkinan keganasan dapat diabaikan. Apabila beberapa kriteria tidak didapatkan, misalnya ditemukan adanya septa, dinding yang ireguler, calsifikasi atau adanya area yang meragukan, perlu pemeriksaan lanjutan CT-Scan, MRI atau aspirasi Pemeriksaan CT-Scan pada kista simple ginjal sangat akurat.. Dengan pemberian kontras, akan terlihat perbedaan parenkim ginjal dengan kista. Densitas parenkim ginjal lebih meningkat, sedangkan gambaran kista tidak terpengaruh. Menggunakan CT-Scan dapat dibedakan antara kista dengan gambaran tumor. Gambaran kista akan menunjukkan  densitas yang mirip dengan cairan, sedangkan tumor mirip dengan parenkim ginjal.

Perbedaan lain, dinding kista akan terlihat tipis dan berbatas tegas dengan parenkim, sedangkan dinding tumor tidak

Kriteria pemeriksaan menggunakan CT-Scan hampir sama dengan kriteria USG,

  1. Batas yang tegas dengan dinding yang tipis dan tegas.
  2. Bentuk yang ovel ramping atau sferis.
  3. Isi yang homogen, dengan densitas mirip air dan tidak nampak peningkatan densitas dengan pemberian zat kontras intravena

Diagnosis Banding

Pada kista ginjal, perlu pemeriksaan teliti untuk membedakan dengan hidronefrosis, ginjal polikistik dan keganasan. Kasus hidronefrosis dapat memberikan tanda dan gejala yang sama dengan kista soliter, tetapi pada pemeriksaan urogram sangat berbeda.  Pada keganasan  sering didapatkan hematuri dan pada gambaran radiologis biasanya tumor menempati posisi yang lebih dalam, sehingga dapat menimbulkan gambaran calyces yang terdistorsi. Pemeriksaan tentang adanya tanda-tanda metastase sangat diperlukan. Dengan pemeriksaan nefrotomogram, aortogram atau echogram hal ini sangat membantu membedakan dengan tumor, meskipun ada kalanya diagnosis banding ini akan sulit tanpa dilakukan pengangkatan ginjal

Ginjal polikistik pada pemeriksaan urografi hampir selalu bilateral, pada kista soliter tunggal dan unilateral. Pada ginjal polikistik akan diikuti gangguan fungsi ginjal, sedangkan kista soliter tidak menimbulkan gangguan fungsi ginjal

Kompliksasi

Komplikasi yang mungkin terjadi  adalah infeksi, meskipun sangat jarang, atau kadang-kadang terjadi perdarahan ke dalam kista. Hal ini akan dirasakan sebagai nyeri pada daerah pinggang yang cukup berat. Apabila  kista menekan atau menjepit ureter. dapat terjadi hidronefrosis, dan dapat berlanjut menjadi pyelonefritis akibat stasis urin

Penanganan

Karena kista soliter sangat jarang memberikan gangguan pada ginjal, penetalaksanaan kasus ini adalah konservatif, dengan evaluasi rutin menggunakanUSG  Apabila kista sedemikian besar, sehingga menimbulkan rasa nyeri atau muncul obstruksi, dapat dilakukan tindakan bedah . Sementara ada kepustakaan  yang menyatakan bahwa meskipun kista ginjal asimptomatik, apabila ditemukan kista ginjal yang besar merupakan indikasi operasi, karena beberapa kista yang demikian cenderung mengandung keganasan

Tindakan bedah yang dapat dilakukan pada kista adalah Aspirasi percutan

1. Bedah terbuka

  • Eksisi
  • Eksisi dengan cauterisasi segmen yang menempel ke parenkim
  • Drainase dengan eksisi seluruh segmen eksternal kista
  • Heminefrektomi

2. Laparoskopik

Pada tindakan aspirasi percutan harus diingat bahwa kista merupakan suatu kantung tertutup dan

avaskuler, sehingga teknik aspirasi harus betul-betul steril, dan perlu pemberianantibiotik

profilaksis. Karena apabila ada kuman yang masuk dapat menimbulkan abses. Seringkali kista

muncul lagi setelah dilakukan aspirasi, meskipun ukurannya tidak sebesarawalnya .

Pemberian injeksi sclerosing agent, dapat menekan kemungkinan kambuhnya kista.

Tetapi preparat ini sering menimbulkan inflamasi, dan sering pasien mengeluh nyeri setelah

pemberian injeksi  Yang perlu diperhatikan adalah apabila terjadi komplikasi. Jika terjadi infeksi kista,  perlu dilakuka drainase cairan kista dan pemberian antibiotik. Pada komplikasi hidronefrosis akibat obstruksi oleh kista, dapat dilakukan eksisi kista untuk membebaskan obstruksi

Pemberian antibiotik pada pyelonefritis akibat stasis urin karena obstruksi oleh kista akan lebih efektif apabila dilakukan pengangkan kista, yang akan memperbaiki drainase urin

Perawatan pascaoperasi harus baik. Drainase harus lancar. Setelah reseksi kista yang cukup besar, cairan drainase sering banyak sekali, hingga beberapa ratus mililiter per hari. Hal ini dapat berlangsung sampai beberapa hari. Sebaiknya draininase dipertahankan sampai sekitar 1 minggu pascaoperasi

Prognosis

Kista soliter dapat didiagnosis dengan cukup akurat menggunakan pemeriksaan sonografi atau CT-Scan. Belakangan ini, USG direkomendasikan sebagai metoda untuk melakukan follow up kista, meliputi ukuran, konfigurasi dan konsistensi. Sangat sedikit dari kista soliter ini akan menimbulkan penyulit dikemudian hari

Sarkoma Ginjal

Komentar ditutup

Sarkoma ginjal adalah tumor ganas ginjal pada orang dewasa yang jarang dijumpai (1-2 % dari semua keganasan pada ginjal, tetapi insiden meningkat dengan bertambahnya usia. Menurut definisi, sarkoma ginjal merupakan keganasan yang berasal dari  mesenkim pada ginjal, yang biasanya terdapat pada jaringan otot, lemak dan jaringan ikat. Perjalanan klinis sarkoma bervariasi tergantung pada subtipe dan stadium histologisnya. Tumor ini lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki yaitu 2:1, dan sangat sulit atau tidak mungkin dibedakan dengan renal sel karsinoma.

Dari klasifikasi tumor mesenkim pada ginjal, leiomyosarkoma adalah tumor yang paling banyak yaitu sebesar 50- 60%.  Pada pemeriksaan CT Scan abdomen,  tumor ini biasanya ditemukan terletak di tepi  dan tampak keluar dari kapsul ginjal atau jaringan otot polos pada dinding pelvis renalis. Biasanya leiomyosarkoma pada ginjal, gejala dan tanda klinis yang penting  sama dengan renal sel karsinoma yaitu nyeri pinggang (40-50%), hematuria (60%) dan massa di pinggang (30%).         Jarangnya kasus leiomyosarkoma pada ginjal, ditambah dengan luasnya subtipe histologis, mempengaruhi kita akan tumor ini dan memperlambat pengembangan terapi yang efektif.

HISTOPATOLOGI

Sarkoma pada ginjal diyakini berasal dari sel stem mesenkim yang ada di jaringan otot, lemak dan jaringan ikat. Asal dari sel stemnya sendiri belum jelas, dan kadang bahkan asal mesenkimalnya juga tidak jelas (seperti sarkoma neuron atau myelin, sarkoma stroma gastrointestinal). Dua teori yang berpengaruh bahwa sel mesenkim  ditemukan di jaringan setempat atau meningkat dari sumsum tulang. Kira-kira setengah dari sarkoma pada ginjal adalah stadium yang sudah lanjut. Subtipe histologis sarkoma pada ginjal yang sering ditemui selain leiomyosarkoma adalah liposarkoma, fibrosarkoma, rhabdomyosarkoma

Mikroskopis leiomyosarkoma ginjal ditentukan oleh gambaran kepadatan seluler dengan adanya sel-sel datia anaplastik bentuk tidak menentu (bizarre) dan gambaran mitosisnya.

DIAGNOSIS

Leiomyosarkoma pada ginjal hampir selalu muncul sebagai massa abdomen, sering kali tanpa gejala. Meskipun median usia pasien rata-rata adalah 50 tahun, leiomyosarkoma pada ginjal bisa muncul pada umur berapa  pun dan angka kejadiannya lebih banyak pada perempuan dari pada laki-laki. Pada sebagian besar kasus, leiomyosarkoma yang lebih kecil dari 5 cm jarang selaki terlihat karena leiomyosarkoma seukuran ini biasanya tidak diperhatikan pasien sampai ukurannya menjadi lebih besar.

Bila ada, gejalanya akan terkait dengan efek massa tumor atau dengan invasi setempat (lokal). Sumbatan atau perdarahan saluran cerna, pembengkakan ekstremitas bawah, atau nyeri merupakan gejala-gejala pertama yang berujung pada ditemukannya leiomyosarkoma pada ginjal.

Pemeriksaan CT-Scan abdomen merupakan sarana terbaik untuk mengevaluasi leiomyosarkoma ginjal. CT-Scan tidak hanya melihat lokasi tumor dan hubungannya dengan organ-organ di sekitar, tapi juga mengidentifikasi lesi metastasis di hepar atau di rongga peritoneum. Juga, CT-Scan abdomen mampu mengetahui tumor perlemakan maupun metastasis intraabdomen. Untuk pelvis, semua kelebihan pemeriksaan CT ini sangat relevan sifatnya, selain mampu menentukan invasi pada tulang.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terinci dapat membantu dan mengarahkan kita pada pemeriksaan lanjutan yang diperlukan. Pemeriksaan testis, ultrasonografi dan pengukuran serum β-hCG, harus dilakukan bila ada dugaan kanker testis dengan metastasis retroperitoneal. Pada pasien dengan limfedenopati, kita bisa memakai biopsi eksisi atau jarum pada limfonodus yang membesar untuk mencari tahu ada tidaknya limfoma. Bila tumor sepertinya berasal dari lambung, pancreas atau duodenum, maka sebagai test diagnostiknya dapat dilakukan endoskopi saluran cerna atas dengan biopsi. Bila diagnosis-diagnosis ini bisa disingkirkan atau kemungkinannya dianggap kecil maka sarkoma merupakan diagnosis yang paling mungkin.

PENANGANAN

1. Radikal Nefrektomi

Leiomyosarkoma pada ginjal memberikan tantangan tersendiri yang membedakannya dari bentuk sarkoma jaringan lunak lain pada ekstremitas. Kesulitan dalam manajemen leiomyosarkoma ginjal diakibatkan oleh ukurannya yang besar dan rumitnya anatomi retroperitoneum. Tindakan radikal nefrektomi merupakan pilihan  pada leiomyosarkoma ginjal.

2. Terapi radiasi

Beberapa peneliti telah mengkaji berbagai metode untuk menurunkan insidensi kegagalan lokal yang terjadi setelah radikal nefrektomi. Kalau dilihat dari bukti yang mendukung perbaikan control lokal penyakit dengan pemakaian radioterapi untuk sarkoma pada badan dan ekstremitas, terapi radiasi  digunakan secara luas sebagai pelengkap operasi leiomyosarkoma pada ginjal.

3.Kemoterapi

Manfaat kemoterapi dalam terapi leiomyosarkoma pada ginjal masih kontroversial, sementara bukti-bukti yang ada masih beragam mutunya (tidak konsisten). Sebagian besar laporan studi yang telah diterbitkan masih terfokus pada tumor yang muncul di ekstremitas. Dalam studi-studi yang memasukkan juga leiomyosarkoma ginjal hanya menempati sebagian kecil proporsi dari total jumlah tumor yang diterapi.

Doxorubicin, ifosfamide dan dacarbizine telah diketahui memiliki aktivitas sebagai obat tunggal yang signifikan untuk terapi leiomyosarkoma ginjal. Sementara laporan tentang kombinasi obat yang tersedia menunjukkan kalau kombinasi lebih baik dibanding obat tunggal, masih sedikit sekali bukti dari studi acak prospektif yang mendukung argumen ini.

PANDUAN SURVEILANS

Ada beberapa pertimbangan yang muncul ketika kita mau memutuskan rencana surveilans (pengawasan) yang tepat untuk pasien setelah terapi leiomyosarcoma ginjal. Pengaruh deteksi dini rekurensi terhadap terapi dan outcome bervariasi sesuai dengan lokasi anatomis dari penyakit yang rekuren tersebut. Untuk leiomyosarkoma pada ginjal kegagalan biasanya terjadi dalam abdomen dan di hepar, dan rekurensi tambahan sebesar 20 – 30% melibatkan paru-paru. Maka strategi pengawasan harus mencakup pemeriksaan fisik, CT abdomen, dan rontgen toraks.

Insidensi rekurensi leiomyosarkoma ginjal paling tinggi di awal masa pascaoperasi, dan perlu disiapkan jadwal evaluasi. Panduan terbaru dari National Comprehensive Cancer Network untuk surveilans leiomyosarkoma ginjal  menganjurkan agar pasien dengan penyakit stadium awal menjalani pemeriksaan fisik dengan CT toraks/abdomen/pelvis setiap 3 sampai 6 bulan selama 2 sampai 3 tahun, dan selanjutnya tiap tahun. Untuk pasien dengan stadium tinggi, mereka harus menjalani pemeriksaan fisik dengan CT toraks/abdomen/pelvis setiap 3 sampai 4 bulan selama 3 tahun, lalu tiap 6 bulan selama 2 tahun, dan selanjutnya tiap tahun.

Sesuai dengan kepustakaan, pada kasus leiomyosarkoma pada ginjal, hampir selalu muncul sebagai massa abdomen sering tanpa gejala. Dan ditemukan adanya kelainan pada ginjal secara tidak sengaja pada intra operatif oleh digestif.             Kemungkinan karena proses yang berjalan lambat dan sangat lama, meskipun menimbulkan benjolan di perut kanan atas, tidak nyeri, tidak didapatkan keluhan adanya hematuria, tetapi berak bercampur darah, sehingga pada saat masuk rumah sakit, tidak langsung rawat bersama dengan . Manifestasi sistemik juga tidak muncul, karena fungsi ginjal masih baik.

Penanganan selanjutnya adalah melakukan laparotomi eksplorasi oleh digestif, dan durante operasi, dikonsulkan ke untuk melakukan radikal nefrektomi.

Stenosis Subpelvik

Komentar ditutup

Stenosis subpelvik  merupakan kasus yang jarang, pada kasus ini terjadi hambatan aliran urin dari pelvis ginjal ke . Pada anak-anak merupakan penyebab kelainan hidronefrosis bawaan, tapi kasus ini juga dapat ditemukan pada orang dewasa.  Penyebab kelainan ini  biasanya bawaan/kongenital, namun dapat saja kelainan ini didapat dalam perkembangan  hidup manusia. Pada  kelainan bawaan penyebab tersering adalah gangguan motilitas hubungan pelvio- sehingga peristalsis dari pelvis ginjal ke terhambat. Sedangkan penyebab yang didapat berupa batu saluran kemih, infeksi saluran kemih, striktur pascaoperasi, striktur pasca peradangan, metastasis tumor ganas.

Biasanya hidronefrosis merupakan kelainan yang paling awal ditemukan pada kasus stenosis , dimana seharusnya urin dialirkan dari pelvis ginjal ke terhambat. Dari diagnosis awal tersebut kemudian ditelusuri penyebab terjadinya hidronefrosis sampai didapatkan secara pasti penyebabnya.  Penanganan yang terbaik pada kasus ini adalah dilakukan tindakan operatif pada daerah yang menyumbat atas dasar indikasi.

Stenosis subpelvik telah lama diketahui sebagai penyebab terbanyak kelainan hidronefrosis pada anak-anak namun dapat saja muncul pada usia yang lebih lanjut. Istilah subpelvik dikemukakan oleh karena biasanya terjadi stenosis pada hubungan pelvio-. Secara umum menggambarkan adanya gangguan aliran urin dari pelvis ginjal ke . Angka kejadian kasus ini pada anak-anak dari 500 kasus  pelebaran saluran kemih yang ditemukan dengan alat ultrasonografi hanya 1 kasus yang mempunyai masalah dibidang urology, manifestasinya dapat tampak pada dekade ke 4. Ratio antara pria dibandingkan  wanita adalah 2-4 : 1. Kelainan pada ginjal kiri lebih sering ditemukan sekitar 60% kasus dibanding dengan ginjal kanan, sedangkan 10-40% kasus terjadi bilateral.

Penyebab kelainan ini lebih sering karena faktor bawaan atau intrinsik, dimana tidak didapatkannya gerakan peristalsis pada . Secara histopatologis serabut spiral yang normalnya ada digantikan oleh serabut longitudinal yang abnormal atau jaringan ikat sehingga timbul gangguan gerakan peristalsis untuk membawa urin dari pelvis ginjal ke .. Dalam keadaan normal gerakan peristalsis ini dipicu oleh aliran listrik konduksi yang berasal dari sel-sel pacemaker di kaliks ginjal. Kelainan bawaan yang agak jarang ditemukan adalah gangguan rekanalisasi . Pada perkembangan embriologis  hubungan pelvio- terbentuk pada usia 5 minggu kehamilan, pada usia 10-12 minggu mulai terjadi kanalisasi dari tunas sedangkan daerah hubungan pelvio- yang terakhir mengalami kanalisasi. Gangguan kanalisasi pada daerah ini yang menyebabkan terjadinya sumbatan hubungan pelvio- yang dapat berupa striktur , katup mukosa atau polip .  Penyebab didapat yang sering ditemukan adalah sumbatan mekanik yang berasal dari pembuluh darah aberan/tambahan dari ginjal yang menyilang pada daerah hubungan pelvio-. Kelainan ini ditemukan pada 33% kasus sumbatan hubungan pelvio- dimana pembuluh darah arteri masuk melalui bagian bawah ginjal pada bagian posterior dari . Pembuluh darah arteri ini  berasal dari percabangan arteri renalis atau aorta abdominalis. Penyebab lain adalah batu saluran kemih, infeksi saluran kemih, striktur pascaoperasi, striktur pasca peradangan, metastasis tumor ganas pada .

Keluhan orang dewasa berupa nyeri pinggang yang hilang timbul  sebagai akibat bendungan berkala pelvis ginjal.  Nyeri juga berhubungan dengan banyaknya orang tersebut minum atau penggunaan obat-obat diuresis dengan meningkatnya produksi urin.   Disamping nyeri dapat pula timbul  keluhan infeksi saluran kemih yang berulang, nyeri perut, mual atau muntah.

Hidronefrosis merupakan kelainan  yang paling awal ditemukan pada kasus stenosis subpelvik, dapat ditemukan secara pemeriksaan fisik berupa massa yang teraba pada daerah pinggang ataupun dengan alat sonografi berupa pelebaran pelvis ginjal dan kaliks ginjal. Dalam keadaan normal tekanan dalam pelvis ginjal nol dengan meningkatnya tekanan yang disebabkan oleh sumbatan atau aliran balik  pelvis ginjal dan kaliks akan melebar. Derajat hidronefrosisi bergantung pada lama, tingkatan dan tempat sumbatan. Makin tinggi sumbatan akan makin berat efek yang dapat timbul pada ginjal.

Penegakan diagnosis stenosis subpelvik dapat dilakukan dengan menggunakan  ultrasonografi, pielografi intravena, pielografi retrograd, voiding cystourethrogram, CT Scan, angiografi dan MRI.

Indikasi penanganan adalah timbulnya gejala-gejala yang berhubungan dengan sumbatan, gangguan kedua ginjal, gangguan salah satu ginjal yang progresif, pembentukan batu saluran kemih dan infeksi. Tujuan penanganan adalah untuk memperbaiki  drainase ginjal dan fungsi ginjal. Penanganan kasus terbagi atas penanganan endourologis yang kurang invasif dan penanganan dengan operasi terbuka. Penanganan endourologis seperti: Endopielotomi perkutan, Endopielotomi dengan balon kauter/Cautery Wire Balloon Endopyelotomy, Endopielotomi ureteroskopis dan Pieloplasti laparoskopis. Pada penanganan dengan operasi terbuka terbagi atas operasi dengan reseksi seperti: metodeDismembered Pyeloplasty, dan operasi tanpa reseksi seperti metode flap Foley V-Y plasti, metode flap spiral Culp-DeWeerd,  flap vertical Scardino-Prince, metode Bonino dan Allemann, metode Fenger,metode Hryntschack Penangan operasi terbuka pada pertama kali dilakukan oleh Trendelenburg pada tahun 1886 namun tidak berhasil. Pada tahun 1891 Kuster berhasil melakukan operasi dengan memisahkan kemudian menyambungkan kembali dengan pelvis ginjal  untuk yang pertama kalinya,  ditahun 1949 Andersen dan Hynes melakukan modifikasi dari tehnik operasi Kuster dengan melakukan anastomosis dengan sisi bawah pelvis ginjal setelah membuang bagian yang melebar.

Secara embriologis perkembangan mulai terbentuk pada usia kehamilan 4 minggu sebagai suatu penonjolan yang disebut tunas . Tunas ini akan menembus jaringan metenefros dan melebar membentuk piala ginjal sederhana. Piala ginjal akan terbagi menjadi bagian kranial dan kaudal, yang akan menjadi kaliks mayor. Tiap kaliks akan membentuk 2 tunas baru dan seterusnya hingga terbentuk kaliks minor. Pada minggu ke 10-12 kehamilan, akan mengalami kanalisasi sampai terbentuk yang normal .

Pada kasus ini keluhan pasien pada awal kunjungan adalah nyeri pada perut bagian bawah dan pinggang sebelah kanan yang kemungkinan disebabkan dari hidronefrosis ginjal kanan. Dalam kepustakaan keluhan yang paling sering diderita oleh pasien  adalah nyeri yang hilang timbul pada pinggang atau pada perut kurang lebih pada 50% pasien, keluhan benjolan di pinggang pada 50% pasien dan infeksi salurang kemih  berulang pada 30% pasien. Keluhan nyeri pinggang terutama saat berdiri  perlu diwaspadai jika disertai dengan mual, menggigil, takikardia, oliguria

dan hematuria dengan kemungkinan ren mobilis atau nephroptosis terutama pada wanita usia lanjut dengan postur tubuh yang kurus.

Pemeriksaan radiologis penunjang pada kasus ini dilakukan pemeriksaan ultrasonografi ginjal kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pielografi intravena dan pielografi retrograd setelah diketahui fungsi ginjal pada pasien masih baik. Ultrasonografi dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal adanya hidronefrosis namun tidak dapat untuk menentukan letak sumbatan. Sehingga penggunaanya sebatas untuk skrining dan monitoring hidronefrosis. Pemeriksaan pielografi intravena digunakan menilai fungsi dan anatomi dari parenkim ginjal  dan sistim pengumpul. Keuntungan pemeriksaan dengan pielografi intravena pada kasus ini dapat terlihat pelebaran dari kaliks  dan pelvis ginjal yang berbentuk corong sampai bagian yang menyempit. Disamping itu pemeriksaan ini juga dapat dibedakan antara stenosis subpelvik dengan kelainan insersi letak tinggi. Kekurangannya pemeriksaan ini tidak dapat digunakan pada ginjal yang fungsinya jelek. Adakalanya pemeriksaan pielografi intravena pada kecurigaan kasus stenosis subpelvik memberi gambaran yang normal sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tambahan atau alternatif yang disebut pemeriksaan renografi diuresis atau renografi hidrasi yang mulai luas digunakan untuk menilai pelebaran sistim pengumpul. Dengan pemeriksaan ini pasien dilakukan hidrasi cairan sebelum pemeriksaan kemudian diberi Furosemid 0,3-0,5 mg/kgBB intravena dengan harapan terjadi diuresis karena cairan banyak dikeluarkan sehingga pada pemeriksaan akan tampak peristalsis dari dan pada lokasi mana peristalsis tidak dapat berlangsung. Pielografi retrograd secara detil dapat menampakkan letak sumbatan pada kasus stenosis subpelvik terutama pada pasien-pasien dengan fungsi ginjal yang jelek sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan pielografi intravena. Kekurangan pada pemeriksaan ini kadang diperlukan tindakan anastesi untuk mengurangi nyeri pada saat pemeriksaan. . Kombinasi dua pemeriksaan antara pielografi intravena dan pielografi retrograd pada pasien  memberikan informasi yang cukup untuk mendiagnosis stenosis subpelvik.  Pemeriksaan angiografi sebaiknya dilakukan sebelum operasi untuk menyingkirkan kemungkinan adanya pembuluh darah yang menyilang atau pembuluh darah tambahan/aberan yang menyebabkan sumbatan ekstrinsik.

Penanganan kasus ini dilakukan  operasi terbuka dengan Pieloplasti metode Andersen-Hynes.  Metode ini digunakan dengan alasan  merupakan yang paling sering digunakan oleh para ahli , memberikan hasil secara anatomis dan fungsi yang paling baik dan angka keberhasilan operasi yang cukup tinggi diatas 95%. . Pada perawatan pascaoperasi kasus ini pemeriksaan pielografi antegrad untuk menilai hasil penyambungan dilakukan pada hari ke 10 sebelum dilakukan pelepasan bidai . Dari kepustakaan sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah bidai dilepas dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi atau kebocoran dari hasil penyambungan, sehingga dapat terlihat dalam keadaan normal tanpa adanya bidai. Kekhawatiran adanya kebocoran setelah dilepasnya tabung nefrostomi juga menyebabkan drain retroperitoneal agak lambat dilepas, dari kepustakaan yang ada sebaiknya dilepas setelah hari ke 10 pacaoperasi setelah diyakini tidak ada kebocoran.

Trauma Ginjal

Komentar ditutup

Trauma ginjal terjadi sekitar 3% dari seluruh yamg ada(Geehan,2003), bahkan mencapai 5% pada daerah urban(Brandes,2003). Trauma ginjal terjadi sekitar 10% dari seluruh abdomen( Geehan,2003., Seidman,2003). Dari seluruh sistem genitourinaria, ginjal menduduki angka tertinggi  sekitar 50% tidak membedakan ginjal kiri atau kanan(Brandes,2003). Trauma biasanya disebabkan oleh karena jatuh, kecelakaan lalu lintas, pukulan, olah raga, tusukan atau  senjata api.(dos Santos Vieira, 2003).

Patologi Trauma ginjal

Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa ginjal melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya.  Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter ,meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah     dan mengisi rongga retroperitoneal.(Guerriero, 1984).

Gambar 3. Fasia Gerota, proyeksi anterior-posterior. (Guerriero, 1984)

Karena miskinnya fiksasi, ginjal mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang  bisa menyebabkan seperti avulsi collecting system atau sobekan pada   intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah. Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi  pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ginjal ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat.

Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul.

Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas ginjal kiri serta duodenum dengan tepi medial ginjal kanan bisa menyebabkan kombinasi pada pankreas, duodenum dan ginjal.. Anatomi ginjal yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya ringan.(McAninch,2000).

Mekanisme Trauma

Mekanisme pada ginjal perlu diperhatikan benar oleh klinisi. Berikut adalah mekanisme yang umumnya terjadi pada ginjal.( Geehan,2003)

1.Trauma tembus

2.Trauma tumpul

3. Iatrogenik

4.Intraoperatif

5.Lain-lain

80-85% ginjal disebabkan tumpul yang secara langsung mengenai abdomen, pinggang atau punggung. Trauma tersebut disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh dan olahraga kontak. Tabrakan kendaraan pada kecepatan tinggi bisa menyebabkan   pambuluh darah utama karena deselerasi cepat. Luka karena senjata api dan pisau   merupakan luka tembus terbanyak  yang mengenai ginjal sehingga bila terdapat luka pada pinggang harus dipikirkan ginjal sampai terbukti sebaliknya. Pada luka tembus ginjal, 80% berhubungan dengan viscera abdomen. (Geehan , 2003; McAninch , 2000).

Gambar 4. Trauma tumpul yang merusak ginjal sering menyebabkan fraktur iga bawah dan prosesus transverses vertebra lumbal. (Blandy,1985)

Gambar 5.

Mekanisme ginjal. Kiri: Hantaman langsung pada abdomen. Gambar kecil menunjukkan gaya yang berjalan dari hilus renalis. Kanan: Jatuh terduduk dari ketinggian (contrecoup of kidney). Gambar kecil memperlihatkan gayadari arah cranial merobek pedikel ginjal.(McAninch, 2000)

Gambar 6.

A.Luka tembus peluru.

B.Luka tusuk. (Guerriero, 1984)

Iatrogenik disebabkan oleh prosedur endourologi, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy(ESWL), biopsi renal dan prosedur ginjal perkutan. Pada intraoperatif  terjadi pada Diagnostic Peritoneal Lavage(DPL). Penyebab lain ginjal adalah karena rejeksi transplantasi ginjal serta proses kelahiran.

Klasifikasi Patologi Ginjal

Menurut Moore et al , ginjal dibagi menjadi:(McAninch,2000)

1.  Trauma minor

Merupakan 85% kasus. Kontusio maupun ekskoriasi renal paling sering terjadi. Kontusio renal kadang diikuti hematom subkapsuler. Laserasi korteks superfisial juga merupakan minor.

2.  Trauma mayor

Merupakan 15% kasus.Terjadi laserasi kortikomeduler yang dalam sampai collecting system menyebabkan ekstravasasi urine kedalam ruang perirenal. Hematom perirenal dan retroperitoneal sering menyertai laserasi dalam ini. Laserasi multiple mungkin menyebabkan destruksi komplit jaringan ginjal. Jarang terjadi laserasi pelvis renalis tanpa laserasi parenkim pada tumpul.

3.   Trauma vaskuler

Terjadi sekitar 1% dari seluruh ginjal. Trauma vaskuler pada pedikel ginjal ini memang sangat jarang  dan biasanya karena tumpul. Bisa terjadi  total avulsi arteri dan vena  atau  avulsi parsial dari cabang segmental vasa ini. Regangan pada arteri renalis utama tanpa avulsi menyebabkan trombosis arteri renalis.

Grading Trauma Ginjal

Untuk mengelola ginjal dengan baik perlu terlebih dahulu menetapkan grading secara akurat. The American Association for the surgery of Trauma membagi ginjal menjadi 5 grade:(Brandes , 2003)

1.derajat I   : kontusio ginjal atau hematom subkapsuler yang tidak meluas  tanpa    disertai laserasi parenkim.

2.derajat II  : hematom perirenal yang tidak meluas atau laserasi korteks < 1 cm tanpa ekstravasasi urine.

3.derajat III : laserasi korteks > 1 cm tanpa ekstra vasasi urine

4.derajat IV: laserasi korteks meluas ke collecting system( terlihat adanya ekstravasasi kontras ), atau cedera arteri atau vena segmental(terlihat adanya infark parenkim segmental) atau cedera arteri atau vena utama yang tertutup oleh hematom

5.derajat V  :  shattered kidney, avulsi pedikel ginjal atau trombosis arteri utama.

Gambar 7. Klasifikasi ginjal. A.grade I: hematuria gross atau mikroskopik, gambaran radilogis normal, kontusio atau hematom subkapsuler terlokalisisr tanpa laserasi parenkim. B.Grade II: hematom perirenal tak meluas atau laserasi korteks kurang dari 1 cm dalamnya tanpa disertai ekstravasasi urine. (McAninch, 2000)

Gambar 8. Klasifikasi ginjal. C: Grade III, laserasi parenkim > 1 cm kedalam korteks tanpa ekstravasasi urine. D: grade Iv, laserasi meluas ke corticomedullary junction dan ke dalam collecting system. (McAninch, 2000)

Gambar  9. E: grade IV, trombosis arteri renalis segmental tanpa laserasi parenkim. Tampak adanya daerah iskemia segmental. F: gradeV, trombosis arteri renalis utama. (McAninch, 2000)

Gambar 10. G: grade V, laserasi multiple mayor menyebabkan suatu shattered kidney. H: grade V, avulsi vasa utama. (McAninch, 2000)

Diagnosis

Kecurigaan adanya ginjal patut dicermati pada keadaan dibawah ini:

Trauma didaerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah tersebut.

Hematuri

fraktur kosta sebelah bawah (T8-T12) atau fraktur prosesus transversus vertebra.

Trauma tembus pada daerah pinggang dan abdomen.

Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.

Derajat ginjal tidak berhubungan dengan derajat hematuri, karena gross hematuria bisa terjadi pada ginjal minor sedangkan hematuria ringan terjadi pada ginjal mayor.(Purnomo,2003)

Gejala

Nyeri terlokalisasi pada satu pinggang atau seluruh perut. Trauma lain seperti ruptur visera abdomen atau fraktur pelvis multiple juga menyebabkan nyeri abdomen akut sehingga mengaburkan adanya ginjal. Kateterisasi biasanya menunjukkan adanya hematuria. Perdarahan retroperitoneal bisa menyebabkan distensi abdomen, ileus, nausea serta vomitus.

Tanda

Perlu diperhatikan adanya syok atau tanda-tanda kehilangan darah masiv karena perdarahan retroperitoneal. Cermati adanya ekimosis pada pinggang atau kuadran atas abdomen. Juga adanya patah tulang iga bagian bawah. Mungkin ditemukan nyeri abdomen difus pada palpasi yang merupakan tanda akut abdomen karena adanya darah pada cavum peritonei. Distensi abdomen mungkin ditemukan dengan bising usus yang menghilang. Masa yang palpable menandakan adanya hematom retroperitoneal besar atau suatu ekstravasasi urin. Namun jika retroperitoneum robek, darah bebas masuk ke cavum peritonei tanpa ditemukan masa palpable pada pinggang.

Laboratorium

Biasanya didapatkan adanya hematuri baik gross maupun mikroskopis. Beratnya hematuri tidak berbanding lurus dengan beratnya kerusakan ginjal. Pada minor bisa ditemukan hematuri yang berat, sementara pada mayor bisa hanya hematuri mikroskopis. Sedangkan pada avulsi total vasa renalis bahkan tidak ditemukan hematuri. Awalnya hematokrit normal namun kemudian terjadi ppenurunan pada pemeriksaan serial. Temuan ini menandakan adanya perdarahan retroperitoneal persisten yang menyebabkan terjadinya hematom retroperitoneal yang besar. Perdarahan yang persisten jelas memerlukan tindakan operasi. .(McAninch ,2000)

Imaging

1. Plain Photo

Adanya obliterasi psoas shadow menunjukkan hematom retroperitoneaal atau ekstravasasi urin. Udara usus pindah dari posisinya. Pada tulang tampak fraktur prosesus transversalis vertebra atau fraktur iga.(Donovan , 1994)

2 .Intravenous Urography(IVU)

Pada ginjal, semua semua tembus atau tumpul dengan hemodinamik tidak stabil yang membutuhkan eksplorasi segera harus dilakukan single shot  high dose intravenous urography(IVU) sebelum eksplorasi ginjal. Single shot IVU ini bersisi 2 ml/kgBB kontras standar 60% ionic atau non ionic yang disuntikkan intra vena, diikuti satu pengambilan gambar abdomen 10 menit kemudian. Untuk hasil yang baik sistol dipertahankan diatas 90 mmHg. Untuk menghemat waktu kontras dapat disuntikkan pada saat resusitasi awal. Keterbatasan pemeriksaan IVU adalah tak bisa mengetahui luasnya .  Dengan IVU bisa dilihat fungsi kedua ginjal, adanya serya luasnya ekstravasasi urin dan pada tembus bisa mengetahui arah perjalanan peluru pada ginjal. IVU sangat akurat dalam mengetahui ada tidaknya ginjal. Namun untuk staging parenkim, IVU tidak spesifik dan tidak sensitive. Pada pasien dengan hemodinamik stabil, apabila gambaran IVU abnormal dibutuhkan pemeriksaa lanjutan dengan Computed  Tomography (CT) scan.

Bagi pasien hemodinamik tak stabil, dengan adanya IVU abnormal memerlukan tindakan eksplorasi.

3. CT Scan

Staging ginjal paling akurat dilakukan dengan sarana CT scan. Teknik noninvasiv ini  secara jelas memperlihatkan laserasi parenkim dan ekstravasasi urin, mengetahui infark parenkim segmental, mengetahui ukuran dan lokasi  hematom retroperitoneal, identifikasi jaringan nonviable serta  cedera terhadap organ sekitar seperti lien, hepar, pancreas  dan kolon.(Geehan , 2003; Brandes , 2003)  CT scan telah menggantikan pemakaian IVU dan arteriogram.Pada kondisi akut, IVU menggantikan arteriografi karena secara akurat dapat memperlihatkan cedera arteri baik arteri utama atau segmental. Saat ini telah  diperkenalkan suatu helical CT scanner  yang mampu melakukan imaging dalam waktu 10 menit pada abdomen. .(Brandes , 2003)

4. Arteriografi

Bila pada pemeriksaan sebelumnya tidak semuanya dikerjakan, maka arteriografi bisa memperlihatkan cedera parenkim dan arteri utama. Trombosis arteri dan avulsi pedikel ginjal terbaik didiagnosis dengan arteriografi terutama pada ginjal yang nonvisualized dengan IVU. Penyebab utama ginjal nonvisualized pada IVU adalah avulsi total pedikel, trombosis arteri, kontusio parenkim berat yang menyebabkan spasme vaskuler. Penyebab lain adalah memang tidak adanya ginjal baik karena kongenital atau operasi sebelumnya.(MC Aninch , 2000)

5. Ultra Sonography(USG)

Pemeriksa yang terlatih dan berpengalaman dapat mengidentifikasi adanya laserasi ginjal maupun hematom. Keterbatasan USG adalah ketidakmampuan untuk        membedakan darah segar dengan ekstravasasi urin, serta ketidakmampuan mengidentifikasi cedera pedikel  dan infark segmental. Hanya dengan Doppler berwarna maka cedera vaskuler dapat didiagnosis. Adanya fraktur iga , balutan, ileus intestinal, luka terbuka serta obesitas membatasi visualisasi ginjal.(Brandes SB, 2003)

Penatalaksanaan

1.  Konservatif

Tindakan konservatif ditujukan pada minor. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu tubuh), kemungkinan adanya penambahan masa di pinggang, adanya pembesaran lingkar perut, penurunan kadar hemoglombin dan perubahan warna urin pada pemeriksaan urin serial.(Purnomo , 2003) Trauma ginjal minor 85% dengan hematuri akan berhenti dan sembuh secara spontan. Bed rest dilakukan sampai hematuri berhenti.(McAninch, 2000)

2.  Eksplorsi

a.   Indikasi absolut

Indikasi absolut adalah adanya perdarahan ginjal persisten yang ditandai oleh adanya hematom retroperitoneal yang meluas dan berdenyut. Tanda lain adalah adanya avulsi vasa renalis utama pada pemeriksaan CT scan atau arteriografi.

b.  Indikasi relatif

b.1.Jaringan nonviable

Parenkim ginjal yang nekrosis lebih dari 25% adalah indikasi relatif untuk dilakukan eksplorasi.

b.2.Ekstravasasi urin

Ekstravasasi urin menandakan adanya cedera ginjal mayor. Bila ekstravasasi menetap maka membutuhkan intervensi .

b.3.Incomplete staging

Penatalaksanaan nonoperatif dimungkinkan apabila telah dilakukan pemeriksaan imaging untuk menilai derajat ginjal. Adanya incomplete staging memerlukan pemeriksaan imaging dahulu atau eksplorasi /rekonstruksi ginjal.     Pada pasien dengan kondisi tidak stabil yang memerlukan tindakan laparotomi segera, pemeriksaan imaging yang bisa dilakukan hanyalah one shot IVU di meja operasi. Bila hasil IVU abnormal atau tidak jelas atau adanya perdarahan persisten pada ginjal harus dilakukan eksplorasi ginjal.

b.4.Trombosis Arteri

Cedera deselerasi mayor menyebabkan regangan pada arteri renalis dan akan menyobek tunika intima, terjadi trombosis arteri renalis utama atau cabang segmentalnya yang akan menyebebkan infark parenkim ginjal. Penegakan diagnosis yang tepat serta timing operasi sangat penting dalam penyelamatan ginjal. Renal salvage dimungkinkan apabila iskemia kurang dari 12 jam.            Jika ginjal kontralateral normal, ada kontroversi apakah perlu revaskularisasi atau observasi.Jika iskemia melebihi 12 jam, ginjal akan mengalami atrofi.      Nefrektomi dilakukan hanya bila delayed celiotomy dilakukan karena adanya cedera organ lain atau jika hipetensi menetap pasca operasi. Trombosis arteri renalis bilateral komplit atau adanya ginjal soliter dibutuhkan eksplorasi segera dan revaskularisasi.

b.5.Trauma tembus

Pada tembus indikasi absolut dilakukan eksplorasi adalah perdarahan arteri persisten. Hampir semua tembus renal dilakukan tindakan . Perkecualian adalah ginjal tanpa adanya penetrasi peluru intraperitoneum Luka tusuk sebelah posterior linea aksilaris posterior relatif tidak melibatkan cedera organ lain.(Brandes, 2003)

Tenik Operasi

A.  Approach

Dilakukan transperitoneal karena dapat mengenali dan menanggulangi intraabdominal lain serta dapat melakukan isolasi pembuluh darah ginjal sebelum melakukan eksplorasi ginjal.

B.  Isolasi pembuluh darah ginjal(Prosedur MCAninch)

Dimaksudkan untuk mengendalikan perdarahan waktu dilakukan eksplorasi ginjal sebelum tamponade hematom retroperitoneal dibuka. Usus halus dan kolon disingkirkan ke lateral dan cranial. Buat insisi pada peritoneum posterior sebelah medial dan sejajar dengan vena mesentrika superior. Insisi berada di ventral aorta dan dengan meneruskan insisi ke cranial akan didapat vena renalis kiri yang berjalan melintang di ventral aorta. Vena renalis kiri merupakan tanda yang penting karena relatif mudah ditemukan, sementara di kraniodorsal akan didapat arteri renalis kiri. Vena renalis kanan bermuara pada vena kava lebih kaudal disbanding  vena renalis kiri dan di cranial vena renalis kanan akan dijumpai arteri renalis kanan.Pada saat pembuluh darah dijerat untuk mengendalikan perdarahan tapi wrm ischaemic time tidak boleh lebih dari 30 menit. Bila diperlukan lebih lama ginjal didinginkan dengan es.    Dengan teknik ini di RSCM dapat diturunkan angka nefrektomi dari 635 menjadi 36%. Setelah prosedur ini, eksplorasi ginjal dilakukan dengan membuat irisan peritoneum parakolika.(Taher A, 2003).

Gambar 11. Isolasi pembuluh darah utama ginjal. (McAninch, 2003)

C.  Rekonstruksi

Setelah membuka fascia gerota maka ginjal harus terpapar seluruhnya. Pada saat inilah biasanya terjadi perdarahan yang dapat dikendalikan dengan melakukan oklusi sementara pembuluh darah ginjal. Selanjutnya dilakukan debridemen fasia dan jaringan ginjal diikuti hemostasis sebaik mungkin. Bila dijumpai perdarahan pada leher kaliks, dilakukan penjahitan dengan benang absorabel kecil dan jarum atraumatik. Defek pelviokalises memerlukan penjahitan yang kedap air. Setelah itu baru dilakukan penjahitan parenkim sekaligus kapsulnya dengan jahitan matras menggunakan benang kromik 2-0. Lemak omentum dapat digunakan untuk menutup defek parenkim yang luas. Jaringan nonviable pada kutub atas maupun bawah yang luas memerlukan nefrektomi pasrsial. Cara guillotine merupakan cara yang mudah, namun penting untuk menyisakan kapsul ginjal agar dapat dipakai untuk menutup defek parenkim ginjal. Sebagai penggantinya dapat dipakai free graft peritoneum. Nefrektomi biasanya dilakukan pada robekan scattered atau mengenai daerah hilus. Laserasi luas pada bagian tengah ginjal dan mengenai pelviokalises sering berakhir dengan nefrektomi.         Repair pembuluh darah perlu diusahakan dan cedera yang mengenai sekaligus a/v ginjal umumnya berakhir dengan nefrektomi. Di USA dari semua cedera arteriil hanya 44% kasus yang berhasil direpair. Ureter harus dikenali dan bila terdapat bekuan darah di ureter maupun pielum, pemasangan nefrostomi harus dilakukan dengan kateter foley 16F. Sebelum menutup rongga retroperitoneum dilaskukan pemasangan pipa drain. (Taher , 2003)

Komplikasi

A. Komplikasi Awal

Komplikasi awal terjadi I bulan pertama setelah cedera.

1.  Urinoma

Terjadi < 1% kasus ginjal. Jika kecil dan noninfeksius maka tidak membutuhkan intervensi . Bila besar perlu dilakukan pemasangan tube ureter atau nefrostomi perkutan /endoskopik.

2.  Delayed bleeding

Terjadi dalam waktu 2 minggu cedera. Bila besar dan simtomatik dilakukan   embolisasi.

3. Urinary fistula

Terjadi karena adanya urin yang tidak didrain atau infark segmen besar parenkim gunjal.

4.  Abses

Terdapat ileus, panas tinggi dan sepsis. Mudsah didrainase perkutan.

5. Hipertensi

Pada periode awal pasca operasi biasanya karena rennin mediated, transient   dan tidak membutuhkan tindakan .

B.Komplikasi Lanjut

Hidronefrosis, arteriovenous fistula, pielonefritis. Kalkulus, delayed hipertensi

Scarring pada daerah pelvis renis dan ureter pasca bisa menyebabkan obstruksi urine yang menyebabkan terbentuknya batu dan infeksi kronik. Fistula arteriovenosa sering terjadi setelah luka tusuk yang ditandai dengan delayed bleeding. Angiografi akan memperlihatkan ukuran dan posisi fistula.Pada sebagian besar kasus mudah dilakukan penutupan fistula dengan embolisasi. Hipertensi delayed pasca cedera ginjal karena iskemi ginjal merangsang aksis renin-angiotensin.

Ginjal sangat terlindungi oleh organ-organ disekitarnya sehingga diperlukan kekuatan yang cukup yang bisa menimbulkan cedera ginjal. Namun pada kondisi patologis seperti hidronefrosis atau malignansi ginjal maka ginjal mudah ruptur oleh hanya ringan. Mobilitas ginjal sendiri membawa konsekuensi terjadinya cedera parenkim ataupun vaskuler. Sebagian besar ginjal adalah tumpul dan sebagian besar tumpul menimbulkan cedera minor pada ginjal yang hanya membutuhkan bed rest.

Diagnosis  ginjal ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada pemeriksaan fisik digali mekanisme serta kemungkinan gaya yang menimpa ginjal maupun organ lain disekitarnya. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menilai ABC nya , local ginjal maupun organ lain yang terlibat. Pada pasien ini mungkin ditemukan hematuria gross ataupun mikroskopis atau mungkin tanpa hematuria.Bila kondisi tidak stabil walau dengan resusitasi maka tidak ada pilihan kecuali eksplorasi segera . Pada pemeriksaan penunjang plain photo bisa ditemukan patah tulang iga bawah, prosesus transversus vertebra lumbal yang menunjukkan kecurigaan kita terhadap ginjal. Pada pemeriksaan IVU akurasinya 90% namun pada pasien hipotensi tidak bisa diharapkan hasilnya. IVU juga tidak bisa menilai daerah retroperitoneal serta sangat sulit melakukan grading. Pada kondisi tak stabil, maka hanya dilakukan one shot IVU yang bisa menilai ginjal kontralateral. Pemeriksaan dengan CT scan merupakan gold standard karena dengan alat ini bisa melakukan grading dengan baik. Bagian-bagian infark ginjal terlihat, serta seluruh organ abdomen serta retroperitoneum juga jelas. Pemeriksaan angiografi sangat baik dilakukan pada kecurigaan cedera vaskuler. Dilakukan arteriografi apabila CT scan tidak tersedia. Kerugiannya pemeriksaan ini invasif.

Prinsip penanganan ginjal adalah meminimalisasi morbiditas dan mortalitas serta sedapat mungkin mempertahankan fungsi ginjal. Hanya pasien dengan indikasi jelas dilakukan nefrektomi. Keselamatan jiwa pasien tentunya lebih penting dari pada usaha peyelamatan ginjal namun jiwa melayang.  Teknik operasi saat ini memegang peranan penting dalam penyelamatan ginjal. Dengan kontrol pembuluh darah ginjal maka terjadi penurunan angka nefrektomi. Kontrol pembuluh darah dilakukan diluar fasia Gerota sebelum masuk zona . Tanpa isolasi arteri dan vena , dekompresi hematom ginjal yang dilakukan durante operasi meningkatkan insidensi nefrektomi.