Kista ginjal adalah lesi tumor jinak ginjal yang paling sering dijumpai (70% dari tumor ginjal yang asimptomatik). Kista bisa tunggal / simple ataupun multiple, dapat unilateral maupun bilateral . Angka insiden kista simpel pada usia di bawah 18 tahun sekitar 0.1 – 0.45 % dengan insiden rata-rata 0.22 %. Pada orang dewasa, frekwensi meningkat sejalan dengan usia. Pada usia di bawah 40 tahun, angka insiden 20 %, dan setelah 40 tahun meningkat menjadi 33 % Kebanyakan penelitian menunjukkan tidak ada predileksi khusus pada perbedaan jenis kelamin. Tetapi pada 2 penelitian oleh Bearth-Steg (1977) dan Tada dkk (1983), menunjukkan bahwa pada pria lebih sering daripada wanita . Kista simple atau soliter merupakan kelainan non genetik . Karena kasus ini lebih sering didapatkan pada orang dewasa, diduga kista soliter ginjal adalah kelainan yang didapat Biasanya kista ginjal asimptomatik dan tidak dijumpai tanda-tanda klinis yang signifikan. Kista yang simple sering ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaaan ultrasonografi, CT-Scan atau urografi karena suatu problem lain pada abdomen (a). Meskipun demikian, kadang-kadang kista menimbulkan keluhan. Keluhan yang mungkin dirasakan pasien adalah adanya massa atau nyeri pada abdomen. Mungkin juga muncul hematuri karena ruptur kista ke dalam collecting system, hipertensi karena iskemi segmental atau adanya obstruksi.
Histopatologi
Kista simple ginjal adalah suatu lesi tunor jinak. Berbentuk “Blue-Dome”, dengan ukuran bervariasi, mulai dari 1 – 10 cm. Yang paling sering adalah dengan diameter kurang dari 2 cm. Dinding kista merupakan satu lapis epitel gepeng atau kuboid. Memiliki dinding fibrous yang tipis, terdiri dari sel epitel gepeng atau kuboid, dan mungkin terdapat area calsifikasi. Kista tidak memiliki struktur pembuluh darah dan tidak memiliki hubungan dengan nephron. Kista mengandung cairan jernih kekuningan. Pada 5% kasus mengandung cairan yang hemoragis Kista simple ginjal biasanya tunggal dan unilateral. Kadang-kadang multiple, multilokuler, dan lebih jarang lagi kasus yang bilateral. Pada ginjal, kista terletak superfisial, dan tidak berhubungan dengan pelvis renalis. 5-8 % kista ginjal mengandung tumor ganas McHugh dkk (1991) berpendapat bahwa ukuran kista tidak berkembang sejalan dengan waktu, sedang ahli yang lain (Bearth and Steg, 1977) pada penelitiannya mendapatkan ukuran kista yang bertambah besar sejalan dengan usia .
Patogenesis
Kista simple ginjal biasanya asimptomatik dan sering ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaaan ultrasonografi, CT-Scan atau urografi karena suatu problem lain pada abdomen Jika ukuran kista soliter bertambah besar, dapat menekan dan merusak parenkim ginjal. Tetapi kerusakan parenkim yang ditimbulkan tidak begitu luas, sehingga jarang sekali menimbulkan gangguan fungsi ginjal secara langsung
Kista yang menimbulkan keluhan, rata-rata berukuran lebih dari 10 cm (b). Keluhan yang mungkin dirasakan pasien adalah adanya massa atau nyeri pada abdomen. Mungkin juga muncul hematuri karena ruptur kista ke dalam collecting system, hipertensi karena iskemi segmental atau adanya obstruksi Kista simple pada ginjal letaknya superfisial, dan tidak berhubungan dengan pelvis renalis. Posisinya sering menempati pole bawah ginjal, tetapi dapat juga menempati suatu posisi sedemikian hingga terjadi penekanan pada ureter atau pelvis, sehingga menimbulkan obstruksi, yang melanjut menjadi hidronefrosis Jika terjadi perdarahan ke dalam kista dan menimbulkan distensi dinding kista, nyeri yang ditimbulkan cukup berat. Demikian juga jika terjadi infeksi, akan menimbulkan nyeri dan disertai demam.
Diagnosis
Pemeriksaan fisik biasanya normal. Kista yang sangat besar, pada palpasi mungkin terraba sebagai massa pada daerah ginjal. Apabila dijumpai nyeri tekan, kemungkinan terjadi infeksi Evaluasi laboratorium fungsi ginjal dan urinalisa biasanya normal. Hematuri mikroskopis sangat jarang dijumpai
Pada foto polos abdomen, mungkin terlihat suatu bayangan massa yang menumpuk dengan bayangan ginjal. Dengan pemeriksaan urogram menggunakan cairan radioopaq, pada 2-3 menit pertama, parenkim ginjal akan terlihat putih, sedang pada bayangan kista tidak, karena kista bersifat avaskuler. Pengambilan gambar obliq dan lateral akan sangat membantu diagnosis. Jika massa kista berada pada pole inferior, gambaran ureter akan terdesak ke arah vertebra. Apabila dengan pemeriksaan rutin tersebut opasitas parenkim ginjal tidak dapat dicapai signifikan, dapat dilakukan nephrotomografi, untuk meningkatkan gambaran kontras antara parenkim dengan kista
Sebagai pemeriksaan yang noninvasif, USG ginjal dapat membedakan antara kista dengan suatu massa solid. Dan apabila ada gambaran kista, dengan panduan USG dapat dilakukan aspirasi. Diagnosis kista simple ginjal menggunakan pemeriksaan ultrasonografi, dengan kriteria
- Tidak didapatkan internal echoes.
- Berbatas tegas dan tipis, dengan tepi yang halus dan tegas.
- Transmisi gelombang yang bagus melalui kista, dengan peningkatan bayangan akustik di belakang kista.
- Bentuk oval ramping atau sferis.
Apabila 4 kriteria tersebut dapat ditemukan, kemungkinan keganasan dapat diabaikan. Apabila beberapa kriteria tidak didapatkan, misalnya ditemukan adanya septa, dinding yang ireguler, calsifikasi atau adanya area yang meragukan, perlu pemeriksaan lanjutan CT-Scan, MRI atau aspirasi Pemeriksaan CT-Scan pada kista simple ginjal sangat akurat.. Dengan pemberian kontras, akan terlihat perbedaan parenkim ginjal dengan kista. Densitas parenkim ginjal lebih meningkat, sedangkan gambaran kista tidak terpengaruh. Menggunakan CT-Scan dapat dibedakan antara kista dengan gambaran tumor. Gambaran kista akan menunjukkan densitas yang mirip dengan cairan, sedangkan tumor mirip dengan parenkim ginjal.
Perbedaan lain, dinding kista akan terlihat tipis dan berbatas tegas dengan parenkim, sedangkan dinding tumor tidak
Kriteria pemeriksaan menggunakan CT-Scan hampir sama dengan kriteria USG,
- Batas yang tegas dengan dinding yang tipis dan tegas.
- Bentuk yang ovel ramping atau sferis.
- Isi yang homogen, dengan densitas mirip air dan tidak nampak peningkatan densitas dengan pemberian zat kontras intravena
Diagnosis Banding
Pada kista ginjal, perlu pemeriksaan teliti untuk membedakan dengan hidronefrosis, ginjal polikistik dan keganasan. Kasus hidronefrosis dapat memberikan tanda dan gejala yang sama dengan kista soliter, tetapi pada pemeriksaan urogram sangat berbeda. Pada keganasan sering didapatkan hematuri dan pada gambaran radiologis biasanya tumor menempati posisi yang lebih dalam, sehingga dapat menimbulkan gambaran calyces yang terdistorsi. Pemeriksaan tentang adanya tanda-tanda metastase sangat diperlukan. Dengan pemeriksaan nefrotomogram, aortogram atau echogram hal ini sangat membantu membedakan dengan tumor, meskipun ada kalanya diagnosis banding ini akan sulit tanpa dilakukan pengangkatan ginjal
Ginjal polikistik pada pemeriksaan urografi hampir selalu bilateral, pada kista soliter tunggal dan unilateral. Pada ginjal polikistik akan diikuti gangguan fungsi ginjal, sedangkan kista soliter tidak menimbulkan gangguan fungsi ginjal
Kompliksasi
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah infeksi, meskipun sangat jarang, atau kadang-kadang terjadi perdarahan ke dalam kista. Hal ini akan dirasakan sebagai nyeri pada daerah pinggang yang cukup berat. Apabila kista menekan atau menjepit ureter. dapat terjadi hidronefrosis, dan dapat berlanjut menjadi pyelonefritis akibat stasis urin
Penanganan
Karena kista soliter sangat jarang memberikan gangguan pada ginjal, penetalaksanaan kasus ini adalah konservatif, dengan evaluasi rutin menggunakanUSG Apabila kista sedemikian besar, sehingga menimbulkan rasa nyeri atau muncul obstruksi, dapat dilakukan tindakan bedah . Sementara ada kepustakaan yang menyatakan bahwa meskipun kista ginjal asimptomatik, apabila ditemukan kista ginjal yang besar merupakan indikasi operasi, karena beberapa kista yang demikian cenderung mengandung keganasan
Tindakan bedah yang dapat dilakukan pada kista adalah Aspirasi percutan
1. Bedah terbuka
- Eksisi
- Eksisi dengan cauterisasi segmen yang menempel ke parenkim
- Drainase dengan eksisi seluruh segmen eksternal kista
- Heminefrektomi
2. Laparoskopik
Pada tindakan aspirasi percutan harus diingat bahwa kista merupakan suatu kantung tertutup dan
avaskuler, sehingga teknik aspirasi harus betul-betul steril, dan perlu pemberianantibiotik
profilaksis. Karena apabila ada kuman yang masuk dapat menimbulkan abses. Seringkali kista
muncul lagi setelah dilakukan aspirasi, meskipun ukurannya tidak sebesarawalnya .
Pemberian injeksi sclerosing agent, dapat menekan kemungkinan kambuhnya kista.
Tetapi preparat ini sering menimbulkan inflamasi, dan sering pasien mengeluh nyeri setelah
pemberian injeksi Yang perlu diperhatikan adalah apabila terjadi komplikasi. Jika terjadi infeksi kista, perlu dilakuka drainase cairan kista dan pemberian antibiotik. Pada komplikasi hidronefrosis akibat obstruksi oleh kista, dapat dilakukan eksisi kista untuk membebaskan obstruksi
Pemberian antibiotik pada pyelonefritis akibat stasis urin karena obstruksi oleh kista akan lebih efektif apabila dilakukan pengangkan kista, yang akan memperbaiki drainase urin
Perawatan pascaoperasi harus baik. Drainase harus lancar. Setelah reseksi kista yang cukup besar, cairan drainase sering banyak sekali, hingga beberapa ratus mililiter per hari. Hal ini dapat berlangsung sampai beberapa hari. Sebaiknya draininase dipertahankan sampai sekitar 1 minggu pascaoperasi
Prognosis
Kista soliter dapat didiagnosis dengan cukup akurat menggunakan pemeriksaan sonografi atau CT-Scan. Belakangan ini, USG direkomendasikan sebagai metoda untuk melakukan follow up kista, meliputi ukuran, konfigurasi dan konsistensi. Sangat sedikit dari kista soliter ini akan menimbulkan penyulit dikemudian hari