Home > Bedah Urologi > Nephroptosis Ren

Nephroptosis Ren

Patofisiologi

Pada nephroptosis, perubahan posisi ginjal lebih dari 2 corpus vertebra – 3 corpus vertebra atau lebih dari 5 cm . Kasus nephroptosis sering asimptomatik. Pada yang simptomatik,  keluhan utama biasanya adalah nyeri di daerah abdomen atau pinggang. Akibat perubahan posisi ginjal, menyebabkan tarikan pada pedikel, sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri akibat iskemi.

Hal lain yang dapat muncul akibat kondisi patologis ini adalah obstruksi aliran ureter,yang ditandai dengan dilatasi dari collecting sistem . Pada kasus yang berat dapat muncul nyeri kolik, mual, demam, takikardi, oliguri dan hematuri atau proteinuri sesaat, yang disebut krisis Dietl

Diagnosis dan Penanganan

Diagnosis nephroptosis ditegakkan dengan pemeriksaan urogram atau renal scanning Pada pemeriksaan ini, dibandingkan posisi ginjal saat berbaring dengan posisi berdiri. Nephroptosis ditegakkan apabila terdapat perbedaan posisi lebih dari 5 cm  atau sejauh 2 – 3 vertebra .Pemeriksaan penujang yang lain adalah pemeriksaan Aortografi, Color Doppler Imaging (CDI) dan  pemeriksaan Isotope Nephrography (ING). Dengan pemeriksaan ini, dapat diketahui adanya penurunan aliran darah ginjal

Kebanyakan kasus nephroptosis asimptomatik. Pada kasus yang simptomatik, perlu dipertimbangkan tindakan operasi, setelah sebelumnya disingkirkan causa yang lain. Selain itu, tindakan operasi  dapat mencegah terjadinya stenosis pembuluh darah lebih lanjut. ..Adanya dokumentasi radiologi yang menunjukkan perubahan posisi ke arah bawah sejauh 2 – 3 corpus vertebrae atau lebih dari 5 cm dan tanda obstruksi atau berkurangnnya aliran yang simptomatik digunakan sebagai dasar untuk dilakukan tindakan bedah

Tehnik Operasi

Sampai saat ini, banyak teknik bedah yang dapat digunakan pada kasus nephroptosis, dari teknik bedah terbuka sampai dengan laparoskopik. Secara garis besar, fiksasi pada nephropexy digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu  :

  1. Fikasi ginjal menggunakan jaringan fibrous atau kapsul lemak dan parenkim.
  2. Fiksasi menggunakan material buatan.
  3. Fiksasi menggunakan fascial flap atau muscle bundle.

Prinsip yang  perlu diperhatikan adalah :

  1. Ginjal harus dapat kembali ke posis normalnya, dengan pole inferior miring ke arah lateral. Tidak ada manfaatnya menempatkan ginjal lebih tinggi dari posisi normal.
  2. Segala bentuk kelainan pembuluh darah atau adanya jeratan yang menimbulkan obstruksi pada pelvis atau uretero pelvical junction harus dihilangkan, karena akan menimbulkan iskemia.
  3. Axis ginjal harus disesuaikan dengan posisi ginjal.
  4. Hindari adanya tension.

Dari sekian banyak teknik, metode operasi Albarron-Marion banyak disukai. Karena dengan metode deckapsulasi betul-betul dapat memfiksir ginjal, sedangkan metode  rein atau sling hanya bersifat sementara. Pada metode Albarron-Marion ini,dibuat flap dari kapsul ginjal, yang selanjutnya difikasasikan pada costa ke-10 Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah perawatan pascaoperasi. Hendaknya pasien tidak melakukan mobilisasi sampai dengan hari ke- 10-14. Perawatan yang baik sangat diperlukan dalam kasus ini. Untuk mencegah timbulnya emboli, dapat diberikan antikoagulan pada hari pertama pascaoperasi. Drain operasi dapat dilepas pada hari ke 4-6

Salah satu komplikasi operasi nephropexy adalah terjadinya pneumothorak. Untuk mengevaluasi hal tersebut, dilakukan pemeriksaan radiologik dada beberapa jam setelah operasi Evaluasi selanjutnya adalah tentang keluhan pasien dan perlunya pemeriksaan radiologi 6-8 minggu pascaoperasi, untuk mengevaluasi hasil operasi.

Tindakan operasi yang dilakukan adalah metode Albarron-Marrion, dengan membuat 4 flap dari kapsul ginjal yang selanjutnya difiksasikan ke costa ke-10. Pemeriksaan röntgen dada pascaoperasi tidak menunjukkan adanya pneumothorak, sebagai salah satu komplikasi yang mungkin muncul pada operasi nephropexy.

Tags: , , , , ,

Posting Berkaitan

Comments are closed.
Copy Protected by 's .