Hernio repair
Inguinal herniorepair adalah tindakan operasi yang cukup sering dilakukan dalam bidang bedah umum. Evolusi tindakan untuk inguinal herniorepair dewasa ini telah menunjukkan perubahan.
Sejak lebih seratus tahun yang lalu Edoardo Bassini(1844 – 1924) memperkenalkan tehnik muskuloaponeurotik repair untuk menutup defek pada dinding abdomen.
Tehnik yang dilakukannya (1884) adalah ligasi tinggi kantong hernia dan memperkuat dasar dari canalis inguinalis dengan menjahitkan conjoint tendon ke ligamentum inguinale di bawah funikulus spermatikus.
Kemudian hampir bersamaan waktunya William S. Halsted (1852 – 1922) pada tahun 1889 melakukan tehnik secara Halsted I, yaitu dengan meletakkan funikulus spermatikus di atas dari aponeurosis oblikus eksternus.
Pada tahun 1893 muncul tehnik Halsted II, dimana transposisi dari funikulus spermatikus tidak dilakukan, tetapi dilakukan imbrikasi pada aponeurosis oblikus eksternus. Prosedur Halsted II juga dikenal sebagai tehnik Ferguson – Andrew. Ahli yang pertama memperkenalkan tehnik imbrikasi pada aponeurosis oblikus eksternus adalah E. Wyllys Andrews (1856- 1927), sedangkan Fergusson tetap menempatkan funikulus spermatikus pada tempatnya semula.
Penggunaan ligamentum iliopectineale (ligamentum Cooper) atau ligamentum pubicum superius sebagai tempat menautkan dinding parietal medial adalah tehnik yang diperkenalkan oleh Georg Lotheissen ( 1868 – 1935 ). Tehnik ini dipopulerkan oleh Chester B. McVay , di Amerika dikenal luas sebagai tehnik McVay.
Kemudian timbul tehnik serupa dari Shouldice dan lain lain. Perkembangan selanjutnya muncul tehnik ”tension-free” yang diperkenalkan oleh Lichtenstein.
Di RS. Sarjito herniorepair dengan tehnik tension free telah dikenal sejak pertengahan tahun 90. Penelitian ini akan menunjukkan profil penderita yang mengalami tindakan herniorepair, gambaran kasus kasus yang mengalami hernia residif dan pemakaian tehnik tension free pada beberapa kasus..
Angka kejadian hernia ingunalis lateralis residif bervariasi antara 1 -5 %, menurut Warko ( 1997 ) angka residif sebesar 10 %. Timbulnya hernia inguinalis lateralis residif menjadi permasalahan yang penting dalam penanganan operasi hernia. Pemakaian material prostese semakin meningkat sehubungan dengan terjadinya residif. Peningkatan tersebut didasari oleh beberapa hal, antara lain berkurangnya rasa nyeri pasca operasi, proses penyembuhan berlangsung lebih cepat serta rendahnya angka rekurensi.
Timbulnya kasus residif lebih dipengaruhi oleh tehnik reparasi dibandingkan dengan faktor konstitusi penderita. Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif yang paling sering ialah penutupan anulus inguinalis internus yang tidak memadai, diantaranya karena diseksi kantong yang kurang sempurna, tidak ditemukan kantung hernia, atau ada lipoma preperitoneal. Berhasil tidaknya tindakan operasi hernia tergantung pada ketrampilan dan pengetahuan dari ahli bedah yang bersangkutan. Kegagalan operasi yang berakibat munculnya rekurensi yang timbul dengan segera, dianggap sebagai kekurangan dari ahli bedah.
Timbulnya rekurensi setelah sekian lama pasca operasi biasanya akibat terjadinya kerusakan jaringan daerah operasi.
Hernia lebih banyak dijumpai pada pria dibandingkan dengan wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada lemahnya pintu masuk hernia di anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu tersebut. Tidak terdapat perbedaan yang bermagna mengenai letak hernia pada sisi kanan maupun kiri.
Pada prinsipnya hernia dapat dijumpai pada setiap usia, tetapi kejadian hernia meningkat dengan bertambahnya umur disebabkan oleh meningkatnya penyakit yang menimbulkan peningkatan tekanan intra abdomen , juga oleh karena faktor usia, kekuatan jaringan penunjang menjadi berkurang. Meningkatnya tekanan intra abdomen secara kronik antara lain disebabkan oleh batuk kronik, pembesaran prostat jinak, konstipasi dan ascites.
Hernia inguinalis lateralis residif adalah hernia yang terjadi kurang dari 6 bulan. Hal tersebut disebabkan oleh karena kesalahan tehnik operasi hernia sebelumnya, tetapi jika terjadinya residif setelah 6 bulan, maka hal tersebut disebabkan oleh karena penipisan fascia.
Sebenarnya residif lebih banyak terjadi pada hernia inguinalis medialis dibandingkan hernia inguinalis lateralis. Pada operasi reparasi hernia inguinalis lateralis, jika ahli bedah kurang memperhatikan status dinding posterior kanalis inguinalis yang lemah, akan mengakibatkan terjadinya hernia inguinalis medialis residif, demikian sebaliknya, adanya kesalahan atau hanya terlalu memperhatikan adanya hernia inguinalis medialis, dan tidak eksplorasi adanya hernia inguinalis lateralis dengan baik seperti adanya prosesus vaginalis persisten, akan menyebabkan terjadinya hernia inguinalis lateralis residif.
Penyebab hernia inguinalis residif antara lain :
- Kelemahan pada saat melakukan identifikasi kantong hernia
- Terjadinya infeksi pada luka operasi
- Kondisi yang menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan intra abdominal
- Kesalahan tehnik operasi, misalnya : ketegangan penjahitan serta terjadinya kekurangan dalam menutup anulus inguinalis internus.
Tidak ada tehnik operasi yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi residif. Yang penting diperhatikan ialah mencegah terjadinya tegangan pada jaringan saat melakukan plasti dan kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan plasti dari bahan sitetis yaitu mesh. Pemakaian mesh tidaklah tanpa masalah. Jika dikerjakan tanpa memperhatikan prinsip sterilitas akan timbul infeksi.
Keuntungan pemakaian mesh antara lain :
- Aman, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta yang kronik.
- Efektif dan kuat.
- Penyembuhan berlangsung lebih cepat.
- Nyeri pasca operasi minimal.
- Jarang menimbulkan komplikasi.
Hernia residif yang berulang, pada beberapa kasus, disebabkan oleh kelainan produksi, maintenans dan absorbsi jarigan kolagen. Peacock et all cit Hartanto ( 1997 ) merekomendasi prosedur reparasi hernia inguinalis lateralis residif berulang berdasarkan hipotesanya bahwa rekurensi terjadi oleh karena kelainan lokal dari metabolisme jaringan kolagen. Stimulasi sintesa kolagen untuk mempertahankan keseimbangan sintesa kolagens dan kolagenolisis, dengan cara mengoreksi defek hernia dengan grafting jarigan sebagai indikator sintesa kolagen.
Gangguan metabolisme kolagen yang terjadi pada hernia inguinalis lateralis residif pada orang dewasa menyebabkan kelemahan dinding fascia transversalis. Dalam upaya untuk mengurangi terjadinya rekurensi dan memperkuat hernioplasti, sudah dikembangkan bemacam-macam tehnik termasuk pemakaian jaringan autolog dan biomaterial. Pemakaian mesh dengan metode Lichtenstein sudah dimulai sejak 16 tahun yang lalu. Pasca operasi didapatkan nyeri yang minimal. Pemakaian tehnik ini cukup efektif dengan angka rekurensi 0 – 2 % dan dapat dikerjakan dengan anestesi lokal maupun regional. Mesh yang baik bersifat tahan terhadap infeksi, permeabilitas molekuler tinggi, transparansi, tahan terhadap kekuatan mekanis dan tidak menimbulkan reaksi dengan jaringan sekitarnya.


