Menurut catatan arkeologi batu dalam saluran kencing telah ada sejak dahulu, dengan ditemukannya batu dalam mumi bangsa mesir pada tahun 4800 SM. Hippocrates sampai saat ini dikenal sebagai orang yang pertama kali melakukan prosedur pembedahan pada ginjal dengan melakukan insisi di daerah flank untuk abses perinefrik. Laporan pertama untuk operasi ginjal, dilakukan oleh Cardan dan Milan yaitu pada tahun 1550, dengan jalan membuka abses lumbal dan mengeluarkan 18 batu pada seorang gadis.
Tanggal 8 Oktober 1872 Dr. William Ingalls di Boston City Hospital menerapkan prosedur nefrolitotomi pada seorang perempuan berumur 31 tahun dengan melakukan drainase abses perirenal lebih dahulu. Pada tahun 1902 Max BrÖdel menggambarkan suatu bidang yang relatif avaskuler yang berjarak 5 mm posterior dari permukaan cembung ginjal, yang kemudian dikenal sebagai “BrÖdel white line”.
Perkembangan yang penting mengenai operasi membuka ginjal ialah Pielolitotomi yang diperluas( extended pielolithotomy ) yang dilakukan oleh Gil-vernet pada tahun 1965 karena dapat diaplikasi secara luas dan mempunyai morbiditas yang minimal, maka teknik ini menjadi pilihan dalam sebagian besar batu di pelvis renalis. Bivalve Nephrolithotomy atau Anatropik Nefrolitotomi ( ANL ) pertama kali diperkenalkan oleh Smith dan Boyce pada tahun 1967, dengan teknik ini ahli bedah dapat melakukan nefrotomi longitudinal melalui BrÖdel line antara batas vaskuler arteri segmental anterior dan posterior, sehingga memberikan paparan yang sangat luas pada sistem kaliks intra renal. Modifikasi dari ANL juga telah dilakukan, misalnya yang dikembangkan oleh Nicholas D dari General Hospital of Athens yang di tulis dalam jurnal urologi Skandinavia tahun 2002, dengan tidak melakukan kalikorafi maupun kalikoplasti seperti yang digambarkan oleh Smith dan Boyce, tetapi hanya melakukan aproksimasi dari kolekting sistem , serta penggunaan U tube nefrostomi.
Diseluruh dunia termasuk Negara-negara berkembang, Insidensi batu dalam traktus urinarius menunjukan angka-angka yang hampir sama dengan di Amerika yaitu 2 % – 3 % dari jumlah penduduk per tahun hal ini membutuhkan biaya yang sangat besar untuk menanggulanginya dan di Amerika 1,83 miliar dolar dihabiskan per tahunnya. Walaupun pesatnya perkembangan ESWL dan teknik minimal invasive seperti PCNL untuk operasi batu ginjal, tetapi karena belum tersedia alat-alat tersebut di seluruh Indonesia dan kurangnya ahli Urologi maka operasi Bivalve Nephrolithotomy atau ANL masih tetap relevan untuk diterapkan pada penanganan batu cetak ( staghorn calculus ) terlebih pada daerah daerah yang masih terpencil.
Batu Staghorn ( Batu Cetak )
Batu Staghorn adalah batu ginjal yang bercabang yang memenuhi pelvis renalis dan paling tidak menempati sedikitnya dua sistem kaliseal. Nyeri kolik akut jarang terjadi, sebagian besar memberi gejala infeksi dan hematuria. Kira-kira 75 % batu staghorn terdiri dari struvite-carbonate-apatite matrix atau disebut juga batu struvite atau batu triple phosphat, batu infeksi, atau batu urease. Batu struvit berhubungan erat dengan infeksi saluran kencing, yang terutama disebabkan oleh adanya bakteri-bakteri peghasil urease terutama yang paling sering ialah proteus, juga ureoplasma urealyticum, stafilokokus, kleibsela, providensia, dan pseudomonas. Bakteri-bakteri ini menyebabkan hidrolisis urea menjadi amonium dan ion hidroksil, akibatnya pH urine akan menjadi alkalis (pH > 7,2) sehingga terjadi kristalisasi magnesium amonium phosfat (MgNH4PO46H2 ) dan carbonat apatite ( CaPO46CO3 ).
Konversi urea menjadi ammonia dan ammonia menjadi ammonium dan mengalami pengasaman oleh karbon dioksida adalah sbb :
H2NCONH2 + H2O à 2NH3 + CO2
2NH3 + H2O à 2NH4 + 2OH – ( meningkatkan pH > 7,2 )
CO2 + H2O à H + + HCO3 2 H + + CO3 2-
Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan pada operasi batu struvite yaitu harus dilakukan pengangkatan seluruh batu, hal ini berhubungan dengan sifat dari batu sruvite yaitu :
- Batu infeksi umumnya tumbuh secara cepat, bila ada sisa batu yang tertinggal dapat merupakan nidus yang akan menjadi pencetus terbentuknya batu berikutnya.
- Angka rekurensi berkisar 10 % bila masih ada fragmen batu yang tertinggal.
- Pada pengobatan batu struvite yang asimptomatik, dulu dilakukan dengan konservatif, tetapi penelitian membuktikan bahwa 30 % penderita yang diobati dengan konserfvatif akan meninggal karena gagal ginjal atau karena pyelonefritis atau sepsis.
Persiapan Preoperatif
Evaluasi menyeluruh sebelum pembedahan ginjal sangat penting, karena diperlukan posisi khusus selama pembedahan dan kemungkinan adanya gangguan sistemik sebagai akibat dari infeksi dan gangguan fungsi ginjal. Fungsi jantung dan paru-paru dievaluasi untuk mendapatkan kemungkinan adanya riwayat penyakit jantung, nyeri dada, dan sesak nafas. Elektrokardiogram, foto thoraks dan pemerikasaan darah lengkap diwajibkan untuk semua pasien. Posisi flank dengan fleksi lateral dari vertebra telah diketahui dapat menyebabkan penurunan kapasitas ventilasi, dan hipotensi dapat terjadi sebagai akibat berkurangnya aliran balik vena. Oleh karena itu pendekatan operasi melalui insisi daerah flank merupakan alternatif pada penderita penderita dengan gangguan fungsi paru.
Evaluasi laboratorium yang lengkap termasuk hitung jenis sel, waktu prothrombin, dan waktu partial thromboplastin teraktivasi, serum elektrolit, dan kreatinin adalah penting karena :
- Pasien dengan anemia kronik memerlukan penentuan golongan darah untuk rencana tranfusi.
- Sangat penting untuk dilakukan urinalisis dan kultur urine beberapa hari sebelum dilakukan pembedahan dan antibiotik yang spesifik sebaiknya diberikan 24 jam sebelum operasi.
- Karena kira-kira 50 % batu infeksi berhubungan dengan kelainan metabolik maka evaluasi metabolik sangat penting. Untuk itu dianjurkan pemeriksaan urine tampung dua puluh empat jam untuk kalsium, oksalat, fosfat, sitrat, asam urat, magnesium, natrium, volume total, pH dan juga pengukuran serum kalsium, asam urat, elektrolit dan fosfat. Jika terjadi kenaikan serum kalsium, harus dilakukan pemeriksaan terhadap serum hormon paratiroid.
- Jika pasien, sebelumnya telah dilakukan operasi pengangkatan batu, maka informasi mengenai jenis batu sangatlah penting.
Foto polos abdomen digunakan menentukan besar dan lokasi dari batu, sedangkan anatomi dari sistem kalises dinilai dengan menggunakan Intravenous pyelografi, walaupun penggunanan CT scan non kontras dan kontras telah lebih sering digunakan. Ultrasenografi digunakan untuk menilai adanya hidronefrosis, sedangkan MRI tidak diperlukan.
Iskemia Ginjal Intraoperatif
Oklusi sementara arteri renalis adalah penting untuk berbagai operasi pada ginjal seperti, nefrektomi, rekonstruksi arteri renalis, anatropik nefrolitotomi dan trauma ginjal karena tidak hanya mengurangi perdarahan intra operatif tetapi juga memberikan akses yang baik pada struktur dalam ginjal. Pengetahuan yang baik terhadap respon ginjal pada iskemia hangat ( warm ischemia ) adalah sangat penting pada operasi ginjal, karena sesaat setelah oklusi dari arteri renalis ATP yang kaya energi pada ginjal akan berubah menjadi monofosfat nukleotida sebagai sumber energi untuk mempertahankan struktur dan integritas sel. Tetapi bila sumber energi ini terus menerus berkurang maka kematian sel akan terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh Canine menunjukan bahwa iskemia hangat yang kurang dari 30 menit masih dapat ditoliler oleh sel-sel ginjal sehingga perbaikan sel-sel ginjal dapat kembali tercapai dengan sempurna sebaliknya bila lebih dari 30 menit akan terjadi kerusakan permanen sel ginjal.
Pencegahan kerusakan ginjal oleh iskemia akibat oklusi sementara arteri ginjal dapat dicapai dengan hidrasi yang cukup sebelum dan pada saat operasi, mencegah hipotensi selama periode anastesia, mencegah manipulasi yang tidak penting pada arteri renalis dan pemberian manitol 5 sampai 10 menit sebelum oklusi arteri renalis. Manitol akan memberikan manfaat karena akan terjadi peningkatan aliran plasma ginjal, menurunkan tahanan vaskuler intrarenal, mengurangi edema intraseluler dan merangsang suatu diuresis osmotik bila sirkulasi renal kembali normal.
Bila diperkirakan operasi akan melebihi dari 30 menit maka harus dilakukan tindakan pencegahan kerusakan permanen ginjal. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan hipotermia lokal pada ginjal dengan pendinginan permukaan ( surface Cooling ) menggunakan butiran es ( ice slush ) sehingga dapat dicapai suhu 20 sampai 25 derajat celsius. Pada tingkat suhu ini akan terjadi penurunan konsumsi energi, penurunan pemakaian oksigen dan mencegah perubahan ATP ke monofosfat nukletide sehingga akan memberikan proteksi terhadap iskemia ginjal selama 3 jam.
TEKNIK OPERASI
- A. Teknik Operasi Untuk Mencapai Ginjal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan insisi yang tepat pada operasi ginjal yaitu, macam operasi yang akan dilakukan, jenis kelainan ginjal, operasi sebelumnya, kelainan diluar ginjal yang akan dioperasi bersama-sama, dibutuhkan untuk operasi ginjal bilateral, dan bentuk tubuh.
Untuk operasi ginjal dikenal 4 macam pendekatan teknik operasi :
1. Pendekatan insisi flank ekstraperitoneal
- Pendekatan teknik operasi ini memberikan akses yang luas untuk parenkim ginjal dan kolekting sistem. Teknik ini merupakan suatu pendekatan ekstraperitoneal yang memberikan akses langsung ke ginjal dan paling kecil menyebabkan kerusakan atau gangguan viscera, keuntungan lain ialah tidak adanya kontaminasi dengan cairan peritoneal dan kemudahan untuk memasang drainase ruangan perinefrik, juga kecil kemungkinan terjadinya hernia incisional. Teknik ini tidak cocok dilakukan pada eksplorasi trauma ginjal oleh karena tidak langsung mencapai pedikel. Teknik irisan pada pendekatan flank yang sering dipakai ialah insisi yang melalui dasar kosta 11 atau 12. Kosta mana yang dipilih tergantung dari posisi ginjal dan letak dari lesi pada ginjal, apakah di kutup atas atau bawah.
- Dalam keaadan anestesi posisi pasien dimiringkan ( posisi lateral ) dengan bagian punggung bebas. Tungkai pada sisi bawah dalam keadaan fleksi 90 0 sedangkan tungkai sisi atas tetap lurus. Letakkan bantal diantara kedua lutut dan karet busa pada aksila untuk mencegah kompresi arteri dan saraf. Fiksasi penderita pada meja operasi dengan cara memasang plester 3 inci pada meja operasi melewati trokhanter mayor. Lengan atas dalam posisi ekstensi dengan fleksi pada siku . Meja operasi di bengkokkan tepat didaerah lumbal sedemikian rupa sehingga bagian dada sedikit miring ke depan dan pelvis sedikit miring ke belakang. ( gambar 102-6 )
- Insisi flank dimulai dengan irisan diatas kosta 12 mulai dari sisi lateral muskulus sakrospinalis memotong m. Latisimus dorsi sampai m. obliqus eksternus. ( gambar 102-7 )
- Periosteum kosta dua belas dibuka dengan pisau dan elevator periost.
| |
| |
 |
Figure 102–6. Position of the patient for the flank approach. Note the axillary pad.
The kidney rest may be elevated if further lateral extension is needed.
Figure 102–7. A, Left flank incision. Anterior edge of the latissimus dorsi muscle overlies the posterior edge of the external oblique muscle. B, The relationship of the 12th rib to the overlying muscles.
- Irisan dilanjutkan ke anterior dengan memotong fascia lumbalis sampai ujung kosta, kemudian masukkan dua jari kedalam ruang perirenal untuk mendorong peritoneum ke anterior, lipatan peritoneum disisihkan ke anterior dan potong m. obliqus eksternus dan m. obliqus internus sambi kontrol perdarahan yang terjadi. Bila direncanakan untuk reseksi kosta, maka elevasi periost dilakukan sampai ke proksimal mungkin dan reseksi dilakukan seproksimal mungkin.
- Pasang hak pada kedua sisi luka operasi maka akan tampak fascia gerota. Untuk memaparkan ginjal, suatu irisan dibuat di bagian posterior fascia Gerota untuk mencegah kerusakan peritoneum, kemudian lakukan diseksi tajam dan tumpul untuk memisahkan lemak perinefrik dari kapsul ginjal.
- Kadang-kadang suatu irisan subkostal diperlukan untuk pembedahan pada kutup bawah ginjal atau ureter bagian atas, penempatan suatu selang nefrostomi atau drainase perinefrik abses. Irisan ini dimulai dari angulus kostovertebralis pada sisi lateral m. sakrospinalis menyusur satu jari dari tepi kosta 12 terus kearah anterior.
- Setelah sampai pada linea aksilaris media sedikit dibengkokkan ke kaudal sampai tepi lateral m. rectus abdominis. Iris lemak subkutan dan potong m. latisimus dorsi, potong juga m. obliqus eksternus dan internus dengan hati-hati agar tidak memotong n. subkostalis.
- Kemudian secara tumpul lakukan spliting m. transversus abdominis diatas atau dibawah nervus subkostalis. Setelah kontrol perdarahan pasang retraktor maka akan tampak fascia gerota.
- 2. Pendekatan insisi lumbotomi dorsal
Teknik ini paling sering digunakan untuk pengangkatan ginjal yang kecil, bilateral nefrektomi pada penderita gagal ginjal stadium akhir , pieloplasti, pielolitotomi, ureterolitotomi ureter bagian atas. Tidak seperti pada insisi flank, pada teknik ini tidak ada otot yang dipotong, ginjal dapat dicapai dengan insisi pada fascia posterior. Irisan yang dibuat lebih cepat, Luka operasi dapat ditutup dengan kuat dengan nyeri pascaoperasi yang minimal, dan kurangnya pembengkakan anterolateral abdomen seperti yang biasanya terjadi pada insisi flank. Kekurangan dari teknik ini ialah akses yang terbatas pada ginjal dan pembuluh darah ginjal, yang bisa menjadi masalah intra operaif bila terjadi migrasi batu atupun kerusakan pedikel ginjal.
- Posisi penderita lateral, meja operasi difleksikan tepat pada daerah lumbal untuk memperluas medan operasi. Bantalan pasir diletakkan antara perut dan meja operasi sebagai penyangga untuk menekan ginjal ke belakang. ( gambar 102-15 ) Bila direncanakan akan membuka kedua ginjal secara bersama-sama maka posisi penderita diatur terlungkup.
- Irisan dimulai dari sudut kostovertebralis pada pertemuan antara sisi lateral m. sakrospinalis dengan sisi bawah kosta 12. Irisan diarahkan kekaudal sedikit melengkung kearah lateral sampai diatas SIAS.
- Muskulus latisimus dorsi dan aponeurosisnya dipotong mengikuti sisi lateral m. sakrospinalis dan tepi bawah m.seratus inferior posterior sampai pada tepi bawah kosta 12.
- Tepi lateral dari irisan ditarik dengan klem Allis, identifikasi fascia lumbalis yang membungkus m. sakrospinalis dan muskulus quadratus lumborum, insisi pada tepi m. sakrospinalis sisi lateral untuk memaparkan m. quadratus lumborum, ruang perirenal dapat dipaparkan dengan menarik m.quadratus lumborum ke medial. Medan operasi dapat diperluas dengan memotong ligamentum kostovertebralis pada sisi atas irisan, dan akan tampak fascia Gerota.
| |
 |
|
- 3. Pendekatan insisi abdominal
Pendekatan ini terutama ditujukan bila diperlukan waktu yang cepat untuk mencapai pedikel ginjal seperti trauma ginjal atau tumor ginjal. Irisan vertikal lebih mudah, lebih cepat, baik pada waktu membuka maupun pada menutupnya kembali, akan tetapi resiko untuk hernia insisional dan dehisensi cukup besar. Irisan transversal ditujukan untuk eksplorasi masa pada ginjal dan berguna bila ada kesulitan dalam pemaparan ginjal akibat adanya adhesi atau kolateralisasi pembuluh pembuluh darah yang timbul misalnya pada suatu tumor ginjal. Insisi subkosta unilateral dapat diperluas melewati garis tengah, seperti Chevron insisi untuk memberikan akses yang lebih luas bila tumor ginjal telah melewati garis tengah atau untuk operasi ginjal tapal kuda. Insisi Chevron memberikan paparan yang sangat baik untuk ekplorasi tumor ginjal bilateral, eksplorasi anterior pada glandula adrenal atau repair arteri ginjal bilateral. Pendekatan abdominal ini dapat dilakukan melalui, insisi median, paramedian, subkostal anterior, dan insisi Chevron transversal.
- 4. Pendekatan insisi torakoabdominal)
Biasanya teknik ini digunakan untuk radikal nefrektomi pada keganasan ginjal, juga merupakan pilihan untuk parsial nefrektomi pada tumor ginjal besar yang berasal dari kutup atas ginjal. Teknik ini banyak memakan waktu dan berpotensi besar menyebabkan gangguan pada paru-paru sehingga lebih baik dihindari.
- B. Teknik Operasi Bivalve Nephrolithotomy atau ANL Menurut Smith dan Boyce
Teknik ini diindikasikan untuk batu cetak, atau bila pecahan batu tidak dapat dikeluarkan melalui pendekatan intrasinusal yang diperluas, juga pada penderita yang sebelumnya telah dilakukan pyelolitotomi dan kemudian menderita batu cetak ginjal. Setelah ginjal dipaparkan melalui irisan flank biasanya menggunakan insisi interkostal antara kosta 11 dan 12, identifikasi ureter dan diseksi dilanjutkan keatas untuk memaparkan pelvis renalis. Ginjal seluruhnya dimobilisasi dengan dengan menggunakan diseksi tajam dan tumpul, pasang pita umbilikal mengelilingi ginjal yang berfungsi sebagai pegangan, identifikasi arteri renalis dengan palpasi dan bebaskan dari jaringan sekitarnya untuk memudahkan bila akan diklem. Identifikasi arteri segmentalis posterior dan anterior melalui diseksi pada sisi lateral sepanjang arteri renalis berikan manitol 12,5 mg secara IV, 5 menit sebelum arteri renalis diklem. Dengan pita umbilikal sebagai pegangan, tempatkan suatu kantong mengelilingi ginjal sebagai tempat meletakkan butiran-butiran es untuk pendinginan permukaan( surface cooling ). (gambar 64-12 )
| |
 |
|
Figure 64-12. Cooling the kidney with ice slush
Klem arteri renalis dengan klem Bulldog, dan segera ginjal dibungkus degan butiran butiran es sampai suhu inti ginjal mencapai 10 sampai 15 derajat Celsius, biasanya dapat dicapai dengan pendinginan selama 15 menit. Lakukan insisi longitudinal pada kapsul ginjal pada permukaan posterior tepat pada garis Bröder yang berjarak kira-kira 0,5 cm posterior dari permukan terluas cembung ginjal.
Irisan ini tidak dianjurkan melewati segmen apikal maupun basilar ginjal, tetapi bila dibutuhkan, insisi dapat diperluas ke masing-masing kutup ginjal sehingga akhirnya ginjal akan terbelah menjadi dua. ( gambar 2.87 ), (gambar 64-13 )
Figure 64-13. Complete dissection of the kidney from surrounding tissue except for renal pedicle and ureter.

2.87 the Kidney is completely the unfolded
Insisi yang tepat pada ginjal dapat dicapai dengan mengklem arteri segmentalis anterior dan membiarkan a. segmentralis posterior tetap terbuka, injeksikan secara IV 20 ml methylene blue, maka segmen posterior dari parenkim ginjal akan berwarna biru sehingga bidang antara segmen anterior dan posterior mudah diidentifikasi. Sangatlah penting mencapai kaliks posterior melalui bidang yang tepat sesuai garis Brödel seperti yang ditunjukan pada gambar 64-14.

Figure 64-14. The Proper approach to the posterior calyces of the kidney between the segment blood suplly of the anterior and posterior portions of the kidney.
Kapsul ginjal kemudian dibebaskan dari parenkim ginjal dengan diseksi tumpul kemudian parenkim ginjal dibelah secara tajam sesuai garis insisi kapsul ginjal, kaliks posterior yang berisi batu staghorn di identifikasi dengan palpasi , kemudian dibuka pada permukaan anteriornya, insisi kemudian diperluas sampai ke pelvis renalis, insisi dilanjutkan ke kaliks anterior melalui insisi pada permukaan posterior dari kaliks anterior, maka berangsur angsur seluruh batu staghorn dapat dipaparkan.
Sebelum ekstraksi batu, uretero pelvic jungtion diklem untuk mencegah fragmen fragmen batu turun ke ureter. Cuci seluruh medan operasi dengan NaCl sampai bersih, tempatkan kateter kecil melalui ureter ke vesika urinaria.
Roentgenogram intraoperatif dilakukan untuk menjamin bahwa semua batu telah diambil. Fragmen-fragmen batu yang kecil bila ada, dapat diambil dengan “nerve hook”, dan bila sisa batu terdapat pada parenkim ginjal dan dapat dipalpasi, suatu radiar nefrotomi dapat dilakukan . Rekonstruksi internal dari kolekting sistem adalah bagian yang terpenting pada operasi ini. Bila mungkin lakukan kalikorafi dengan menjahit tepi-tepi dari kaliks mayor yang berdekatan secara bersama-sama dengan menggunakan kromik 5-0. ( Gambar 64-17 )

Figure 64-17. The internal reconstruction of the collecting system after removal of a . a staghorn calculus.
Kemudian dilanjutkan dengan kalikoplasti ( gambar 64-18 ).

Figure 64-18. Calicoplasty .
Pasang double J stend dengan ujung atas berada pada kaliks mayor kutup bawah ginjal, fiksasi double J stend pada pelvis renalis dengan jahitan kromik lima nol Lepaskan klem bulldog beberapa detik untuk identifikasi adanya sumber perdarahan dan untuk mengetahui hemostasis yang telah dicapai.
Nefrostomi longitudinal ditutup dengan jahitan kromik 4-0 dimulai dengan jahitan kontinyu pada ujung-ujung dari kolekting sistem sedangkan bagian sentral dijahit dengan memasang jahitan belum diikat pada beberapa tempat untuk menjamin aproksimasi yang tepat dari kolekting sistem kemudian jahitan diikat satu demi. Gambar 64-20.

Gambar 64-20

Gambar 64-21
Figure 64-20. Closure of the collectiong system after performance of an anatrophic nephrolithotomy.
Figure 64-21. Closure of the renal capsule with either running or interrupted sutures.
Kapsul ginjal ditutup dengan jahitan terputus dengan menggunakan kromik Tiga nol seperti pada gambar 64-21.
Lepaskan klem bulldog dari a. renalis, kemudian ginjal dihangatkan dengan cairan irigasi, pasang drain di ruang retroperitoneal, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
- C. Modifikasi Bivalve Nephrolithotomy atau Anatropik Nefrolitotomi Menurut Nicholas D. Melissourgos.
Pasien dalam posisi lateral dekubitus, lakukan insisi flank melalui ruang interkostal 11 dan 12, buka fascia gerota secara longitudinal kemudian lemak perinefrik dibuka, ginjal kemudian dimobilisasi dari jaringan sekitarnya sehingga seluruh parenkim ginjal terpapar. Identifikasi ureter proksimal, dan diikat dengan pita umbilical untuk mencegah migrasi fragmen batu. Pedikel ginjal diklem menggunakan klem vaskuler dan pendinginan permukaan ( surface cooling ) dilakukan dengan guyuran larutan NaCl dingin bersuhu 7 derajat Celsius. Kapsul renalis kemudian diinsisi melalui Brödel line dilanjutkan ke parenkim ginjal. Setelah kolekting sistem dibuka dan batu dipaparkan, permukaan epitel dari kolekting sistem dengan hati-hati dipisahkan dari batu untuk mencegah laserasi dari epitel, kemudian batu dikeluarkan. Eksplorasi kaliks minor untuk melihat sisa batu yang tertinggal, cuci seluruh medan operasi dengan NaCl sampai bersih, klem pada a. renalis dilepaskan beberapa detik untuk melihat tititk-titik perdarahan, bila ada perdarahan, jahitan angka 8 dengan menggunakan dexon 3-0 dapat dilakukan.
Aproksimasi struktur kolekting, pasang U tube nefrostomi, parenkim ginjal ditutup dengan dexon 2-0, kapsul ginjal ditutup dengan jahitan kontinyu dengan benang diserap 4-0. Pasang drain perirenalis, tutup luka operasi lapis demi lapis.
Perbedaan yang terpenting pada modifikasi ANL ini dibandingkan dengan yang dilakukan oleh Smith dan Boyce ialah bahwa :
- Untuk menentukan irisan pada batas avaskuler antara arteri segmental anterior dan posterior, tidak menggunakan injeksi methylene blue maupun oklusi arteri segmentalis anterior dengan klem, tetapi langsung pada bidang tersebut dengan alasan bahwa suplai darah dari arteri segmental ke ginjal adalah konstan tidak dipengaruhi oleh jumlah dari arteri renalis, akibatnya manipulasi yang tidak perlu dari arteri segmentalis ini akan meminimalkan bahaya spasme a. renalis.
- Struktur dari kolekting sistem tidak dijahit total ( kalikorafi maupun kalikoplasti ) tetapi hanya diaproksimasi saja karena, jahitan yang terlalu erat akan mengganggu aliran darah akibat terikatnya pembuluh darah disekitar infundibulum.
- Tidak menggunakan double J stend, tetapi menggunakan U tube nefrostomi, suatu sistem drainase tertutup dengan irigasi kontinyu menggunakan NaCl sampai urine menjadi jernih.
- Pemakaian manitol IV tidak bermakna dalam merubah waktu iskemia ginjal sehingga tidak perlu dipakai.