Arsip

Arsip untuk ‘Bedah Digesti’ Kategori

Apendektomi Insidental

Komentar ditutup

Apendektomi insidental secara selektif pada penderita dengan resaiko tinggi untuk apendisitis atau nyeri kuadran kanan bawah mungkin memegang peranan.Apendektomi Insidental ialah Suatu tindakan apendektomi dengan tujuan sebagai propilaksis. Pelaksanaan apendektomi insidental merupakan hal yang kontroversial, mungkin sebaiknya tak perlu dilakukan pada sebagian besar penderita.

Apendektomi insidental pada histrektomi atau cholecystectomi tidak akan meningkatkan komplikasi, tetapi tidak akan meningkatkan efektifitas secara finansial (cost) jika ini meningkatkan charge pembedahan, sebab sebagian besar apendisitis terjadi pada penderita muda dan sebagian besar apendektomi insidental terjadi pada penderita tua, insidental apendektomi secara rutin mungkin tidak akan berpengaruh secara nyata terhadap pengurangan rawat inap karena apendisitis. Meskipun insidental apendektomi dikontra indikasikan pada kondisi-kondisi tertentu, penerapannya secara selektif pada penderita muda (misal 10 – 30 th) pada status kesehatan yang baik, tetapi beresiko apendisitis mungkin menguntungkan. Perempuan muda yang menderita keluhan pelvis berulang atau nyeri, mungkin menguntungkan untuk dilakukan insidetal apendektomi.

Insidental apendektomi saat insisi kanan bawah di lakukan untuk operasi-operasi seperti reduksi intususepsi, ini pada umumnya dipikirkan untuk mengurangi kebingungan bila jika terjadi nyeri kanan bawah di kemudian hari. Tidak ada trial sedara klinik yang mendukung yang berhubungan dengan aproach beyeleuf. Apendektomi insidental pada kondisi-kondisi tertentu seperti limpodenectomi secara radial perinatal untuk kanker testis atau groft vasculer, di kaitkan dengan konplikasi infeksi yang lebih tinggi sebaiknya dihindari. Pada studi dengan 4,5 kasus dengan insidental apendektomi pada 1910 anak yang mengalami nefrektomy karena williams  tumor, tidak ditemukan peningkatan komplikasi infeksi atau obstruksi post operasi pada penderita yang mengalami insidental apendektomi. Indikasi lain insidental apendektomi mungkin meliputi akut atau kronis di kuadran kanan bawah dimana apendisitis di temukan normal saat eksplorasi. Sebagai tambahan penderita dengan crohn’s desease yang merasa nyeri kuadran kanan bawah, saat dilakukan operasi eksplorasi pada umumnya cenderung di lakukan apendektomi untuk menghindari dilema diagnostik di masa yang akan datang. Menurut Tai Sugimoto (1987), secara cost sangat menguntungkan dilakukan dilakukan apendektomi incidental.

Appendektomi incidental masih kontrapersial untuk dilakukan, ada 4 indikasi untuk dilakukan appendektomi incidental menurut sabiston 2001:

  • nyeri perut kanan bawah yang terusmenerus
  • tumor williams
  • pada durante operasi ditemukan apendik, hiperenis, udema

Hernia

Komentar ditutup

Definisi

Suatu keadaan keluarnya jaringan/organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu lubang/celah keluar di bawah kulit atau menuju rongga lainnya ( secara kongenital / aquisital).

Kelainan kongenital misal : batang otak turun melalui foramen occipital magnum. Berdasarkan definisi di atas , bila ada suatu organ yang keluar sampai ke kulit disebut Hernia, misal :  post laparatomi, timbul infeksi pada jahitan sehingga jahitan robek (dehisiensi) dan terjadi eviserasi ( jahitan robek organ keluar ke permukaan kulit ). Hernia terjadi akibat adanya tempat2 yang lemah disebut Locus Minoris Resistentiae (LMR), misal :

  • Fascia transversa abdominis
  • Processus vaginalis peritonii persistent

Bagian-bagian Hernia

1.        Pintu Hernia adalah  LMR yang dilalui kantong hernia

2.        Kantong Hernia adalah peritoneum parietal

Tidak semua hernia mempunyai kantong, misal : H.Incisional,H.Adiposa

3.        Leher Hernia  adalah bagian tersempit

4.        Isi Hernia  : Gaster, usus, vu, ovarium, omentum

Etiologi

1. Kongenital

  • Sempurna , proses intra uterin

Terjadi sejak lahir, misal :  H.Umbilikalis, H.Epigastrika, Omphalocele congenital

  • Tidak Sempurna

Waktu lahir tak tampak, setelah ada faktor predisposisi baru nampak, misal : HIL akibat processus vaginalis abdominis persistens tak dapat masuk ke scrotum

2. Acquisita

  • Tekanan intra abdominal yang meninggi

Pada pasien yang sering mengejan, faktor pencetus :  Batuk kronis, BPH, partus, ascites,vesicolithiasis

  • Konstitusi tubuh

Orang gemuk lebih sering dari orang kurus (Asthenis), karena banyak jaringan lemaknya

  • Banyak Preperitoneal fat ,  H.Adiposa, H.epigastrika
  • Distensi dinding perut pada ascites, partus
  • Sikatrik karena jahitan tak sempurna
  • Penyakit yang melemahkan otot dinding perut : poliomyelitis anterior

Faktor – faktor yang mempengaruhi Insiden Hernia

  • Herediter  ;  Individu type asthenik (fascia transversa abdom lemah)
  • Umur dan Pekerjaan  à usia > 50 th krn dinding perut mulai melemah
  • Jenis Kelamin
  1. HIL banyak pada laki2 krn terdapat processus vaginalis peritonii
  2. H.Femoralis banyak pada wanita karena :
  • Sering partus à tekanan intraabdominal meningkat dan anulus femoralis    melemah
  • Bentuk pelvis lebih horisontal sehingga tekanan ligamentum inguinale lebih besar dan anulus femoralis melemah
  • Keadaan Tubuh

Obesitas ,  preperitoneal fat banyak ,  fascia transversa abdominis lemah menyebabkan H.Adiposa

Conjoint tendon dibentuk oleh  MOAI & m.transversus abdominis

Trigonum Hasselbachii terletak antara m.rektus abdominis dan Fovea inguinalis medialis

Pembagian Hernia

  • Secara Klinis
  1. Reponabilis   : dapat dimasukkan kembali tanpa operasi
  2. Irreponabilis : Tidak dapat dimasukkan, harus operasi (strangulasi)
  3. Inkarserata : H.Irreponabilis disertai gejala Illeus
  4. Akreta : mengalami perlengketan
  • Hernia Abdominalis
  • Externa

Isi hernia berasal dari cavum abdominalis melalui LMR keluar sampai subkutis, terdiri dari :

  1. HIL, HIM
  2. Umbilikalis
  3. Epigastrika
  4. Lumbalis
  5. Semilunaris
  6. Pelvica  : femoralis, obturatoria, perinealis, ischiadica
  • Interna

Isi hernia dari cavum abdominalis masuk ke rongga lain

Diagnosis ditentukan dengan rontgen foto

  • Intra-peritonealis
  1. H.Epiploicum Winslowi
  2. H.Bursa omentalis
  3. H.Mesenterica
  • Retro-peritonealis
  1. H.paraduodenalis
  2. H.recessus illeocecalis
  3. H.recessus sigmoideus
  • Hernia Diafragmatica : Morgagni. Bochdalek, Hiatal


  • Ada tidaknya kantong
  1. Berkantong à peritoneum
  2. Tidak berkantong à H.adiposa, H.Incisionalis, H.sikatriks
  • Hernia bentuk khusus
  • Hernia Richter

Sebagian dinding usus menonjol, sedang sebagian besar dari usus diluar kantog hernia.

  • Hernia Littre

Kelainan embrionik, adanya divertikulum Meckeli yang keluar melalui LMR

  • Hernia Sliding

Suatu keadaan dimana organ peritoneal (usus,colon sigmoid) seakan meluncur kebawah, dan akan membentuk dinding posterior kantong hernia.

  • Hernia Interstitialis

Akibat kesalahan reposisi, sehingga organ tidak masuk ke cavum abdomen tetapi masuk ke celah antara jaringan (lamina musculoaponeurotic)

Akibat yang ditimbulkan : pembuluh darah pecah, ruptur isi hernia

  • Hernia Pantalon

Terdapatnya H.Inguinalis dan medial secara bersama-sama pada satu sisi.

  • Hernia Spiegel

Terjadi pada linea semilunaris dibawah linea semisirkularis, namun diatas vasa epigastriga inferior menyilang tepi lateral m.rektus abdominis

  • Hernia Permagna : separo isi rongga perut masuk ke kantong hernia

Komplikasi Hernia

  • Perlekatan / H.Akreta
  • Hernia Irreponabilis
  • Jepitan  menyebabkan vaskularisasi terganggu  menyebabkan iskhemimenyebabkan ganggren menyebabkan nekrose
  • Infeksi
  • Obstipasi : obstruksi / konstipasi
  • Hernia Inkarserata  terjadi Illeus

Diagnosis

  • Anamnesis
  1. Timbul benjolan/massa yang semakin membesar pada posisi berdiri dan akan mengecil pada posisi tidur
  2. Pada anak kecil : sering nangis, mengejan, batuk, kencing lancar/tidak
  3. Pada usia lanjut : pekerjaan dan aktivitas,penyakit kronis, BPH, sering partus
  4. Hernia femoralis : benjolan pada kaki
  5. Bila isinya usus à 3 hari menimbulkan hernia inkarserata
  6. Bila isinya bukan usus à gangguan (-) misal :  tuba,omentum,ovarium
  • Pemeriksaan Fisik

§       Inspeksi

  1. Pasien disuruh berdiri & mengejan à timbul benjolan pada lipat paha, bentuk lonjong (lateral), bulat (medial)
  2. Beda dengan limphadenopati à benjolan tetap ada pada posisi tidur
  3. Benjolan  di atas lipat paha (Inguinalis), dibawah lipat paha (femoralis)

Benjolan pada scrotum kemungkinan : tumor, H.scrotalis atau hidrocele. diapanaskopi bila (+) hidrocele

Untuk bedakan tumor atau hernia pasien disuruh mengejan  bertambah besar (hernia)

§       Palpasi

  • Teraba massa , fluktuasi(+), batas tegas
  • Beda HIL & HIM ,Pada HIL :
    • Anulus inguinalis lateral ditekan, penderita disuruh mengejan à teraba benjolan
    • Annulus inguinalis medial ditekan, penderita mengejan à teraba benjolan
    • Pada anak-anak : teraba silk sign (seperti benang sutera), merupakan proc vaginalis persisten

§       Perkusi bila tympani bila isinya usus

§ Auskultasi ada suara usus

§       Diapanaskopi (Transiluminasi) ,  melihat ada tidaknya cairan untuk membedakan dengan hidrokele

Penanganan Hernia

  • Konservatif
  1. Reposisi  , memasukan isi hernia ke dalam cavum abdomen
  2. Suntikan  , setelah reposisi berhasil, cairan sklerotik (alkohol/kinin)
  3. Sabuk hernia , bila pintu hernia masih kecil
  • Operatif

§ Indikasi

· Hernia Reponabilis : elektif

· Hernia Irreponabilis : 2×24 jam

· Hernia Inkarserata : Speed operasi

Menilai keadaan hernia

  • waktu :
  • <  24 jam                 :    baru terjadi jepitan
  • 24  –  28 jam          :    Iskhemi
  • 48  –  72 jam          :    Ganggren
  • >  3 hari                   :    nekrosis
  • Usus  :

§         Kondisi usus membiru / iskhemi / nekrose

Vaskularisasi :

Bila setelah pemberian NaCl (5 mnt) terjadi perubahan warna usus, dari biru menjadi merah (viabel), bila tetap (non viabel/nekrose)

Bila non-viabel :

-  KU baik  dilakukan reseksi kemudian disambung end to    end kemudian tutup : herniorapi, hernioplasty

-  KU jelek  :  dilakukan Vorlagerung/exteriorisasi

Usus yg nekrose dikeluarkan ditaruh diatas paha, beri lubang untuk keluar feses. 2-3 hari bila KU  baik dilakukan usus yang lubang di reseksi terus   E to E anastomose.

§       Peristaltik   (+) , setelah pemberian NaCl terjadi peristaltik

§         Tujuan  :

  • Reposisi isi hernia
  • Menutup pintu hernia untuk hilangkan LMR
  • Mencegah residif dengan memperkuat dinding perut

§         Tahap Operasi

  • Herniotomy

Membuka & memotong kantong hernia serta mengembalikan isi hernia ke cavum abdominalis

  • Hernioraphy

Mengikat leher hernia & menggantungkannya ke conjoint tendon

  • Hernioplasty

Menjahitkan conjoint tendon pada ligamentum inguinale, agar LMR hilang dan dinding perut menjadi kuat

Operasi Hernia pada Anak.

o      Usia  < 1 tahun , teknik MICHELE BENC

Dilakukan tanpa membuka aponeurosis musculus abdominis externus (tanpa membuka canalis inguinalis medialis)

Cara :

mengambil kantong hernia lewat annulus inguinalis medialis dilakukan herniotomy dan hernioraphy tanpa digantung pada conjoint tendon, tanpa hernioplasty

o      Usia  > 1 tahun , teknik POTT

Cara : canalis inguinalis dibuka dilakukan herniotomy dan hernioraphy tanpa digantung pada conjoint tendon , tanpa hernioplasty

Limpha – Spleen

Komentar ditutup

Limpa berasal dari diferensiasi jaringan mesenkimal mesogastrium dorsal. Berat rata-rata pada manusia dewasa berkisar 75-100 gram, biasanya sedikit mengecil setelah berumur 60 th , ukuran dan bentuk bervariasi : panjang ± 7cm . Limpa terletak di kuadran kiri atas dorsal di abdomen pada permukaan bawah diafragma, terlindung oleh iga ke 9, 10, dan 11. Limpa terpancang ditempatnya oleh lipatan peritoneum yang diperkuat oleh beberapa ligamentum suspensorium yaitu:

1.        Ligamentum splenophrenika dipasterior (mudah dipisahlan secara tumpul ).

2.        Ligamnetum gastrosplenika , berisis vasa gastrika brevis

3.        Ligamentum splenokolika terdiri dari bagian lateral omentum majus

4.        Ligamentum splenorenal.

Limpa merupakan organ paling vaskuler. Vaskularisasinya meliputi arteri lienalis, variasi cabang pankreas dan beberapa cabang dari gaster (vasa Brevis). Arteri lienalis merupakan cabang terbesar dari trunkus celiakus. Biasanya menjadi 5-6 cabang pada hilus sebelum memasuki lien. Pada 85 % kasus, arterilienalis bercabang menjadi 2 yaitu ke pole superior dan inferior sebelum memasuki hilus. Sehingga hemi splenektomi bisa dilakukan pada keadaan tersebut (Danne, 1999).

Vena lienalis bergabung dengan vena mesenterika superior membentuk vena porta. Limpa asesoria ditemukan pada 30 % kasus. Paling sering terletak di hilus limpa, sekitar artei lienalis,ligamentum splenokolika, ligamentum gastrosplenika, ligamentum splenorenal, dan omentum majus. Bahkan mungkin ditemukan pada pelvis wanita, pada regio presakral atau berdekatan dengan ovarium kiri dan pada scrotum sejajar dengan testis kiri (Schwartz, 1997)  Dibedakan menjadi 2 tipe :

1.        Berupa konstriksi bagian organ yang dibatasi jaringan fibrosa.

2.        Berupa massa terpisah.

Patofisiologi

Fungsi limpa dibagi menjadi 5 kategori (Trunkey, 1990) :

1.        Filter sel darah merah

2.        Produksi opsonin-tufsin dan properdin

3.        Produksi Imunoglobulin lg M

4.        Produksi hematopoesis in utero

5.        Regulasi T dan B limfosit

Pada janin usia 5-8 bulan limpha berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan putih, dan tidak berfungsi pada saat dewasa.

Limpa adalah organ pertahanan utama ketika tubuh terinvasi oleh bakteri melalui darah dan tubuh belum atau sedikit memiliki anti bodi. Kemampuan ini akibat adanya mikrosirkulasi yang unik pada limpa.  Sirkulasi ini memungkinkan aliran yang lambat sehingga limpa punya waktu untuk memfagosit bakteri, sekalipun opsonisasinya buruk. Antigen partikulat dibersihkan dengan cara yang mirip oleh efek filter ini Dan antigen ini merangsang respon anti bodi lg M di centrum germinale. Sel darah merah juga dieliminasi dengan cara yang sama saat melewati limpa.

Limpa dapat secara selektif membersihkan bagian-bagian sel darah merah : dapat membersihkan sisa sel darah merah normal, Howell-Jolly dan sel siderosit Pappenheimer. Sel darah merah tua akan kehilangan aktifitas enzimnya dan limpa mengenali kondisi ini akan menangkap dan menghancurkannya. Pada asplenia kadar tufsin dan ada dibawah normal. Tufsin adalah sebuah tetra peptida yang melingkupi sel – sel darah putih dan merangsang fagossitosis dari bakteri dan sel-sel darah tua. Properdin adalah komponen penting dari jalur alternatif aktivasi komplemen, bila kadarnya dibawah normal akan mengganggu proses opsonisasi bakteri yang berkapsul seperti meningokokkus, dan pneumokokkus ( Trunkey, 1990 ).

Hipersplenisme adalah filtrasi berlebihan terhadap unsur sel darah oleh limpha.

Ruptur Lien

Pecahnya lien bisa terjadi akibat trauma tajam, trauma tumpul, trauma iatrogenik maupun spontan. Pada ruptur spontan bisa akibat :

1.        Penyakit infeksi  oleh karena  Malaria, mononukleasis infeksiosa

2.        Penyakit hemaotologik: jinak, ganas

3.        Bendungan karena hipertensi portal

Patologi

Kelainan patologi dikelompokkan menjadi :

I.      Cedera kapsul

II.      Kerusakan parenkim ,  fragmentasi, pole bawah hampir lepas

III.      Kerusakan  hillus   dilakukan splenektomi parsial

IV.      Avulsi Limpha dilakukan splenektomi total

V.      Hematoma subkapsuler

Tanda – tanda ruptur lien gejala yang timbul biasanya :

-          Syok hipovolemi dengan atau tanpa takikardi dan penurunan tekanan darah.

-          Nyeri perut kiri atas atau punggung kiri

-          Nyeri pada puncak bahu disebut tanda  KEHR

Nyeri alih melalui n.frenikus ke puncak bahu jika rangsangan pada permukaan bawah peritoneum diafragma

-          Laboratorium ditemukan leukositosis

Penatalaksanaan
Splenorapy

Bertujuan untuk mempertahankan limpa yang fungsional dengan menjahit limpa yang mengalami laserasi, tetapi jika perdarahan telah berhenti sebaiknya tidak dilakukan lagi karena dapat memicu terjadinya perdarahan ulang. Penjahitan dengan benang poliglycolic acid 0, dilanjutkan dengan ligasi arteri yang mengarah ke pole tersebut. Jika perdarahan aktif tetap berlangsung, total atau parsial splenektomy(Irving, 1996).

Splenektomy

1 Parsial

Jika fragmen limpa terputus total atau parsial, biasanya di pole atas atau bawah dapat dilakukan tindakan yang lain. Arteri lienalis utama biasanya bercabang sebelum menembus limpa. Cabang-cabang ini adalah end arteri yang memungkinkan untuk dilakukannya tindakan parsial splenektomy.

2 Total

Indikasi mutlak :

-        Tumor primer

-        Kelainan hematologik dengan hipersplenisme jelas yang tak dapat diatasi dengan pengobatan lain (anemia hemolitik kongenital)

Indikasi Relatif :

-        Kelainan hematologik tanpa hipersplenisme jelas, tetapi splenektomy dapat memulihkan kelainan hematologik

-        Ruptur limpa

-        Hipersplenisme pada sirosis hati dengan varises esofagus

-        Splenomegali yang mengganggu karena besarnya limpa

-        Sewaktu operasi radikal onkologik di perut bagian atas (lambung,    pankreas)

Metode :

1.        Limpa dibebaskan dari Ligamentum splenorenal dan gastrosplenika

2.        Pedikel dipegang oleh asisten dan ditekan, lalu kauda pankreas dipisahkan secara tumpul dari hilus dan pembuluh darah dapat diperlihatkan.

3.        Diseksi dekat kekapsul akan menampilkan arteri kutub yang sesuai

4.        Kemudian arteri ini diligasi ganda.

5.        Wedge reseksi dilakukan  dengan cutting diathermy. Jahitan matras dengan benang absorbel seperti polikglaktin 0, dipakai untuk mengontrol rembesan dari tipe yang terbuka (Irving, 1996).

Spleny Wrapping Procedure

Trauma mayor yang berakibat terlepasnya kapsul limpa, khas ditemukan pada pasien dengan perdarahan yang lambat. Pada pasien ini sering kali ada hematom subkapsuler yang besar. Anyaman mesh polygkycolic acid sangat menolong dalam mengamankan hemostasis pada kasus ini (Irving , 1996)

Ligasi Arteri Lienalis

Masih merupakan suatu kontroversi pada penanganan trauma limpa. Ada satu laporan yang mendukung teknik ini, Namun pengalaman di San  Francisco General Hospital tidak mendukung prosedur ini sejak 2 kasus ligasi arteri lienalis menimbulkan nekrosis limpa ( Trunkey, 1990 ).

Autotransplantasi Limpa

Autotransplantasi masih merupakan kontroversi pada penanganan trauma limpa. Sebaiknya autoransplantasi dilakukan, karena ada beberapa bukti fungsi sebagian limpa dapat kembali yaitu sebagai penyaring sel darah merah. Produksi opsonin kemungkinan sedikit sekali atau bahkan tidak ada lagi, tetapi hal ini masih diperdebatkan.

Terdapat juga bukti bahwa penanaman jaringan limpa secara luas pada peritoneum atau SPLENOSISoverwhelming infeksi Splenosis dapat terjadi diseluruh abdomen dan paling sering ditemukan secara kebetulan saat laparatomy oleh sebab lain. Splenosis berbeda dengan limpa asesoria secara histologis yakni kehilangan elastisitas dan serabut otot polos pada kapsulnya. Beberapa fakta menyatakan bahwa limpa hasil implan tidak dapat terjadi bila tidak tersedia massa jaringan yang baik dan adanya vaskularisasi yang sangat berbeda dari sirkulasi limpa yang normal (Schwartz, 1997). tidak melindungi pasien dari

Reimplantasi merupakan aurotransplantasi jaringan limpa yang dilakukan setelah splenektomy. Caranya ialah dengan membungkus irisan parenkim limpa dengan slices 1-mm (Boone and Peitzman, 1998) diameter ± 0,5 cm (Schwartz, 1997) dengan omentum atau menanamnya di pinggang belakang peritoneum (Karnadiharja, 1997). Viabilitas dari hasil implantasi ditunjukkan dengan kembalinya tuftsin, opsonin komplemen, dan lg M ke level normal (Schwartz, 1997), radionuclide scan 3-4 bulan post operasi untuk melihat fungsi, ukuran , dan lokasinya ( Skandalakis, 1995)  Fakta menunjukkan bahwa autotransplantasi jaringan limpa pada omemtum pada akhirnya fungsi limpa secara imunologis akan baik. Sebuah tinjauan tentang masalah ini manyimpulkan bahwa studi pada manusia dan binatang yang dilakukan autotransplantasi limpa relatif aman dan mudah dilakukan yang memulihkan kelevel dasar beberapa parameter hematologi dan imunologi. Beberapa aspek dari fungsi reticuloendotelial juga membaik. Studi radiosotop menunjukan pada banyak pasien autotransplantasi pada omentum majus menghasilkan jaringan yang tumbuh secara bermakna.

PERAWATAN PASCA SPLENEKTOMY

Banyak pasien yang tidak mengalami komplikasi post splenektomy. Pada umumnya jumlah trombosit meningkat sangat tajam sampai 2 juta per mm3 dan tidak diperlukan terapi khusus selain hidrasi yang cukup. Jika diperlukan dapat diberikan obat pencegah agregasi platelet seperti asam salisilat, dipridamol, dekstran atau jika pasien resiko tinggi dipakai heparin (trunkey, 1990; Schwartz, 1997). Penulis lain mengatakan bahwa jika jumlah trombosit lebih dari 1 juta mm3 sebaiknya deberikan aspirin dosis rendah atau heparin (Danne, 1999; Irving, 1996). Pasien yang mengalami efusi dan kolapnya lobus bawah paru kiri biasanya memberikan respon yang baik dengan fisioterapi.

Peningkatan insidensi sepsis umumnya disebabkan oleh H influenza, pnemokokkus, meningikokkus, Stapilokokkus dan H influenza pada anak perlu diberikan antibiotika propilaksi melawan H influenza sampai dewasa (Schwartz, 1997). Amoksilin 250 mg perhari atau penoksimetilpenisilin 250 mg 2 kali sehari dapat diberikan, walaupun belum ada kesepakatan apakah obat ini akan diberikan selama hidup atau 5 tahun saja. Waktu pemberian vaksinasi masih kontroversi. Beberapa penulis merekomendasikan anatara 3 sampai 4 minggu pasca operasi. Dan setelah 5 tahun dilakukan vaksinasi ulang pnemovax (Boone and Peitzman, 1998).

KOMPLIKASI SPLENEKTOMY

-        Perdarahan awal post operasi harus dimonitor secara teliti, terutama pasien dengan trombositopenia atau kelainan mieloproliperasi. Perdarahan umumnya berasal dari vasa gastrika brevis atau kauda pankreas. Jika pada 24 jam pertama ada manifestasi perdarahan lebih dari 1 atau 2 unit maka ada indikasi untuk operai ulang untuk mengontrol sumber perdarahan dan evakuasi hematom untuk mencegah timbulnya abses subfrenik (Trunkey, 1990).

-        Atelektase lobus inferior kiri

-        Trombosis vena dalam (dvt).

-        Emboli paru.

Trombosis vena splenika dengan perluasan ke vena porta dan vena mesenterika superior jarang terjadi. Umumnya pada pasien dengan kelainan mieproliperasi atau sepsis yang mengakibatkan abses intra abdomen (Scwartz, 1997).

-        Trauma pada pankreas akibat truma murni atau akibat tindakan splenektomy

dapat menimbulkan pankreatitis post operasi.

-        Devaskularisasi kurvatura mayor akibat pemotongan vasa gastroepiploika dapat

terjadi kebocoran atau fistula. Komplikasi ini timbul 3 sampai 4 hari post operasi. Komplikasi lain yaitu infeksi, baik akut yang timbul setelah operasi atau infeksi lanjut.

Splenektomy mengakibatkan berbagai defek imunologi termasuk respon antibodi yang buruk terhadap imunisasi, defisiensi tuftsin dan penurunan level serum Ig M, Properdin, Opsonin. Walaupun studi pada hewan menunukan bahwa 25 % dari jaringan limpa sudah cukup untuk berfungsi sebagai pertahanan melawan bakteri

Komplikasi splenektomy (Trunkey, 1990) :

1.        Perdarahan intra peritoneal persisten

2.        Pankreatitis post operasi

3.        Devaskularisasi lambung

-        Fistula gaster

-        Abses subfrenik

-        Peritonitis

4.        Komplikasi tromboemboli

-        Trombosis vena suprarenalis

-        Trombosis vena dalam (DVT)

-        Emboli paru

5.        Infeksi

-        Akut post operasi

-        Bahaya yang timbul belakangan

Penulis lain menganjurkan untuk melakukan autotransplantasi oleh karena beberapa alasan yaitu aman. Mudah dilakukan, fungsi retikuloendotelial dan fungsi imunologis kembali baik. Ada beberapa kekurangan yaitu produksi opsonin kemungkinan kecil sekali atau bahkan tidak ada dan tidak dapat secara adekuat menyaring bakteri berkapsul. Tidak ada perbedaan yang bermakna pada pasien post splenektomy dengan pertumbuhan limpa hasil autotransplantasi dibandingkan dengan tanpa autotransplantasi.

Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini yaitu (Timens W;Leemans R) :

1.     Total jumlah darah yang disaring sedikit.

2.     Mikroanatomi limpa hasil autotransplantasi kemungkinan tidak sesuai untuk aliran darah yang pelan sebagaimana pada limpa yang normal yang merupakan faktor penting untuk kontak yang lama antara antigen, phagosit, dan imun respon.

3.     Untuk memeriksa fungsi Imun limpahasil autotransplantasi ada 2 hal yang dievauasi :

(a)   kapasitas phagositosis : tidak ada teropsiniasi secara buruk.

(b) kapasitas imun respon humoral dengan perhatian khusus antigen  T1-2         polisakarida.

Dengan adanya kedua bahan ini pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya terdapat   fungsi limpa hasil autotransplantasi menjadi tidak bermakna dalam mengevaluasi kemampuan menjalankan fungsi imun yang sebenarnya.

Pemberaian amoksilin atau penoksimetil penisilin sebagai antibiotik profilaksi diberikan 5 tahun atau seumur hidup belum ada kesepakatan. Usia dan penyakit mempengaruhi resiko post splenektomy. Resiko ini paling besar pada bayi dan menurun perlahan seiring dengan pertumbuhan dari masa anak ke masa dewasa. Namun resiko ini tidak pernah hilang.

Diperkirakan 80 % kasus OPSI terjadi di dalam periode 2 tahun pertama post splenektomy (Ein, 1993).   Karena    banyak kematian pada sepsis post splenektomy sebenarnya dapat dicegah, Sehingga bila ada demam harus segera dikenali dan ditangani dengan tepat. Orang tua yang memiliki anak tanpa limpa harus diajarkan untuk segera mencari pertolongan medis bila ada demam sehingga dapat dievaluasi secara tepat dan dapat diberikan perlindungan antibiotik yang tepat secepat mungkin.

Hernia Inguinalis Lateralis

Komentar ditutup

Adalah hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui annulus inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum.  Mempunyai LMR ( Locus Minoris Resistentie) pada  :

Kongenital  :
Annulus inguinalis lateralis/internus : akibat kegagalan  obliterasi  procecus Vaginalis peritonii

Acquisital  :
Bagian lateral fovea inguinalis lateralis
Hernia inguinalis disebut juga hernia scrotalis bila isi hernia sampai ke scrotum

Batas – batas canalis inguinalis :

  • Dinding depan :  Aponeurosis MOEA
  • Dinding belakang :  Fascia transversa abdominis (muka); Peritoneum parietal (belakang)
  • Atas :  Tepi bebas m.transversus abdominis (belakang);Tepi bebas MOIA (muka)
  • Caudal :  Ligamentum inguinale

Disebelah dalam  canalis inguinalis disilangi oleh vasa epigastrica inferior , cabang vasa illiaca externa, merupakan dasar untuk membedakan HIL dan HIM pada durante operasi.

Hernia Inguinalis Medialis

Komentar ditutup

Adalah hernia yang berjalan melalui dinding inguinale ke belakang, medial dari vasa epigastrica inferior ke daerah yang dibatasi oleh Trigonum Inguinalis / Hasselbachii (merupakan LMR)

Batas -  batas Trigonum Hasselbachii :

  • Caudal :   Ligamentum inguinale
  • Lateral :   arteri epigastrica inferior
  • Media :   Tepi lateral m.rektus abdominis

Diagnosis banding benjolan pada lipat paha :

    1. Hidrocele pada funiculus spermaticus maupun testis
    2. Cara membedakan :
    3. Penderita mengejan, benjolan membesar  berarti hernia
    4. Diapanaskopi (+)
    5. Kriptorchismus
    6. Limadenopati / Limadenitis inguinal
    7. Varices Vena Sapena magna
    8. Lipoma

HERNIOTOMY

Indikasi :

  1. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)
  2. Hernia Irreponabilis
  3. Hernia Reponabilis  dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan
  4. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)

Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan inkarserasi / strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor penyebab harus dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.

Anatomi Hernia

  1. Kulit, subcutaneus fat dan fascia superficialis
  2. Aponeurosis MOE
  3. MOI dan Transversus abdominis serta Conjoint tendon
  4. Fascia dan m. cremaster
  5. Funiculus Spermaticus
    • Arteri spermatica cabang aorta
    • Vena spermatica
    • Vas deferens
  6. Processus Vaginalis
  7. Ligamentum inguinale (Poupart)
  8. Arteri Epigastrica Inferior
  9. Trigonum Hesselbachii
  10. Fascia m.Transversus abdominis, annulus inguinalis internus, pre-peritoneal fat, peritoneum

Tehnik Operasi

  • Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke tuberculum pubicum
  • Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE : tampak crus medial dan lateralis yang merupakan anulus eksternus
  • Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau , dengan bantuan pinset anatomis dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus dan ke kaudal sampai membuka annulus inguinalis eksternus. Hati2 dengan N.Ilioinguinalis dan N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi sampai nampak funiculus spermaticus
  • Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial, sehingga nampak kantong peritoneum
  • Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus didorong ke cavum abdomen dengan melebarkan irisan  ke proksimal sampai leher hernia, kantong sebelah distal dibiarkan
  • Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah conjoint tendo dan digantungkan
  • Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :

Ferguson
Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis. MOI & transversus dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan funiculus di dorsalnya. kemudian aponeurosis MOE dijahit kembali, sehingga tidak ada lagi canalis inguinalis.

Bassini

MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal, Funiculus diletakkan disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit, sehingga canalis inguinalis tetap ada.
Kedua musculus berfungsi memperkuat dinding belakang canalis,sehingga LMR hilang

Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk memperkuat / menghilangkan LMR. Funiculus spermaticus diletakkan di subcutis
Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted dilakukan pada orang tua, supaya dinding perut lebih kuat

  • Kemudian luka ditutup lapis demi lapis
  1. Aponeurosis MOE jahit simpul dengan cromic catgut
  2. Subcutan fat dijahit simpul dengan catgut
  3. Kulit dijahit dengan zyde secara simpul

Komplikasi Herniotomy
Durante Operasi

  • Lesi funiculus spermaticus
  • Lesi usus, vu, vasa epigastrica inferior, vasa iliaca ekterna
  • Putusnya arteri Femoralis

Post Operasi

  • Hematom, Infeksi, Wound dehisiensi
  • Atropi testes
  • Hydrocele
  • Rekurens
Copy Protected by 's .